Sabtu, 21 April 2018

Tahun Lalu

Di tanggal yang sama. Di tahun yang berbeda, tahun lalu.

Mungkin itu kali terakhir kita bertemu sebagai dua sejoli dengan warna yang pernah serupa, sebagai dua sejoli dengan rasa yang pernah sama.

Mungkin itu kali terakhir kita bisa saling mengeluh. Aku mengeluhkan takdir yang hanya ingin mencandaiku. Kamu mengeluhkan takdir yang selalu mengerjaimu. Membuangmu jauh ke ujung dunia.

Mungkin itu kali terakhir kita bisa saling melepas kesah. Aku padamu. Kamu padaku. Kita. Berdua.

Mungkin itu adalah kali terakhir kita tertawa bersama. Menertawakan perjuangan yang acap dianggap sebelah mata. Menertawakan jarak yang selalu memuai. Atau menertawakan roda takdir yang selalu memilih berada di pihak oposisi.

Mungkin itu kali terakhir kita bersua sebagai dua sejoli yang pernah saling terikat.

Tapi aku dan kamu berbeda. Kamu datang untuk membersihkan sisa temali yang masih menempel pada relung hatiku. Agar kelak saat kamu pergi, serpihan itu tak menggangguku.

Sedang aku? Aku justru berusaha mencari serpihan temali yang telah lebur bersama angin dan merangkainya kembali.

Mungkin itu kali terakhir kita bisa bertukar kabar. Dan membicarakan rasa yang tak lagi ada.

Masihkah kamu cinta padaku?
Mungkin, tidak, katamu.

Minggu, 17 Desember 2017

Akhir

Time flies.

Waktu seolah terbang. Terbang dengan amat cepatnya. Bagai elang di antara burung-burung, bagai cahaya di antara  molekul. Hingga tanpa  sadar kini aku telah berada di penghujung tahun. Di penghujung yang sama dengan tahun lalu.

Namun...

Setidaknya penghujung tahun lalu masih menyisakan setitik harapan. Segulir mimpi yang seharusnya diwujudkan di tahun ini. Angan, cita-cita, perjuangan, kepercayaan, dan cinta.

Tapi rupanya takdir berkata lain. Yang ada hanyalah kisah tentang keputusasaan: khianat, ditinggalkan, dan luluh lantak. Asa yang dibangun dengan susah payah, harapan yang terus dijaga dalam badai, dan mimpi yang terus digenggam erat. Semua musnah dalam hitungan pendek tak berbilang.

Terkadang aku bertanya pada-Nya. Apa salahku? Pantaskah aku menerima semua ini? Di antara milyaran perempuan lain, mengapa harus aku?

Menyusun kembali puing-puing yang runtuh. Lalu kembali runtuh. Menyusun kembali reruntuhan yang telah runtuh. Lalu kembali runtuh. Berusaha membangun reruntuhan yang kembali runtuh. Lalu runtuh lagi. Hingga pada akhirnya jiwa ini tak sanggup lagi untuk menyusunnya.

Lalu beberapa yang datang mengetuk, tak lagi dapat kurasakan ketukannya. Ia yang mengetuk perlahan. Dia yang mengetuk paksa. Ia yang membuka lebar-lebar. Ia yang datang begitu saja. Tak terasa.

Apa yang salah? Apakah jiwa ini sudah mati?

Senin, 17 Juli 2017

Entah

Aku bahkan tak tahu alasan mengapa aku harus bersedih.
Tapi kenyataannya, aku sedih.
Amat sedih.

Aku juga tak tahu mengapa aku harus menangis.
Tapi entah bagaimana,
Aku menangis.

Aku ingin hidup yang biasa-biasa aja, kataku padamu. Aku tak ingin dirundung kesedihan teramat, lagi, dan lagi.

Tapi katamu, kebahagiaan besar akan datang setelah kesedihan yang teramat. Hanya masalah waktu hingga saat itu tiba

Tapi, sayangku. Bukankah hidup yang biasa-biasa saja akan jauh lebih mudah daripada hidup penuh kebahagiaan yang didahului kesedihan teramat?

Katamu, kita tak bisa memilih jalur yang kita inginkan. Jalur itu, lanjutmu, telah diukir pada awal waktu.

16.07.2017

Minggu, 25 September 2016

Perpisahan

Bukankah perpisahan tak pernah indah, sesempurna apapun direncanakan? Karena perpisahan adalah perpisahan. Selalu ada kesedihan yang merayap, segempita apapun helatan mengudara.

Tapi setidaknya, perpisahan denganmu, aku ingin menjalaninya dengan syahdu. Tanpa perlu terisak tertahan. Atau tercekat pedih menahan anak lambung yang hendak melompat keluar. Sesekali, tak apa dihiasi dengan air mata. Asal kau ada di hadapanku, menghibur.

Setidaknya, perpisahan denganmu, aku berharap akan sedikit lebih indah. Sedikit diwarnai pelangi, kalau aku boleh meminta. Dengan sepucuk es krim yang lezat, atau semangkuk bakso hangat. Kita duduk berdua, sembari mengenang perjumpaan pertama, hari-hari bahagia, juga hari-hari nestapa.

Perpisahan denganmu, kupikir, seharusnya lebih bermelodi. Bukan kesunyian menganga karena kebisuanmu, atau ketakutanku untuk sekadar bertanya. Aku benci keheningan ketika kau tak kuasa menyanyikan kisahmu. Dan aku benci ketidakmampuanku untuk sekadar memetik nada.

Perpisahan denganmu, kurasa, seharusnya tak usah terjadi. Kau tak perlu pergi. Dan aku tak perlu mengucapkan selamat jalan. Aku juga tak perlu mengucapkan selamat tinggal pada kenangan.

Tapi, bukankah aku tak kuasa menolak rencana Tuhan? Pun dirimu. Kau tak pernah merencanakan perhelatan ini. Pun aku tak pernah, sekalipun dalam pikirmu, akan menjadi tamu undanganmu.

Mungkin, keindahan tersembunyi di balik kesedihan. Mungkin, hanya ada benang tipis yang membatasi duka, lara, dan cita.

Yogyakarta, 6 Juli 2016
Untuk kamu

Sabtu, 24 September 2016

Padahal Kusangka

Bulir-bulir itu masih ingin menyeruak.
Tak terkedali kala aku mendapati bayangmu di ujung hari.
Ia memaksa di ujung pelupuk,
tak ingin berkompromi.
Sendu.
Rindu.

Pada diriku, aku bertanya.
Salah siapakah ini?
Nurani.
Naluri.
Nalar.
Jarak yang membelenggu.
Ataukah sejak awal kita telah memanggul sebuah dosa kala bersama.

Sendu yang sama.
Warna kelabu yang sama.
Apakah aku tak pantas menjadi tokoh utama dalam sebuah drama berakhir bahagia?

Padahal,
kusangka,
kamu adalah penawar terakhir atas luka menganga yang ditorehnya.

Padahal,
kusangka,
Denganmu aku akan kembali menuliskan dongeng kanak-kanak yang indah.

Padahal,
kusangka,
tidak akan ada torehan kedua.

Sabtu, 07 Maret 2015

Rumor

Sejak dulu, membayangkan bagaimana menjadi orang dewasa selalu membuat pikiran saya campur aduk. Enggan karena konon menjadi orang dewasa tak semenyenangkan apa yang terlihat. Enggan karena menjadi dewasa mungkin akan kehilangan semangat dan keceriaan khas kanak-kanak. Enggan karena saya harus bertanggung jawab secara penuh untuk setiap hal yang saya perbuat. 

Minggu, 11 Januari 2015

Bersahabat dengan Alam

Pergi ke lokasi wisata alam kini menjadi trend dan tradisi tersendiri. Lihatlah ketika akhir pekan datang. Lokasi-lokasi wisata alam pasti penuh dijubeli pengunjung. Ini berbeda dengan 10 hingga 15 tahun yang lalu. Atau setidaknya, berbeda dengan apa yang ada di ingatan saya waktu itu.

Wisata alam pertama yang saya ingat adalah ketika saya, bapak, dan adik pergi ke kali Kuning, sebuah sungai yang masih asri di bilangan kaki Gunung Merapi. Saat itu, kira-kira ketika saya masih duduk di bangku kelas dua SD, Kali Kuning tidaklah populer, berbeda dengan saudara sepersusuannya, Kali Urang. Anehnya, ketika keluarga lain lebih suka pergi ke taman wisata Kali Urang, saya dan adik jstru lebih suka menjelajahi seluk beluk Kali Kuning.

Berenang hanya dengan mengenakan kaos dalam dan celana dalam--benar-benar seperti anak liar, menyusuri tepian sungai hingga menemukan sumber mata air, memasukkan bekal minum dan buah ke dalam air yang dingin, hingga menyeberangi bukit tembusan ke taman wisata Kali Urang.

Saat itu, hanya kami bertiga yang ada di lokasi itu. Sesekali ada seorang penjual yang lewat. Ah ya, ada juga bapak-bapak penjaga parkir yang posnya nun jauh di sana. Beberapa tahun kemudian, ketika kami kembali menyambangi Kali Kuning untuk yang ke sekian kalinya, baru lah kami menjumpai keluarga lain: seorang ibu dan dua anak lelakinya. Merekalah yang membuat saya enggan melepas pakaian untuk mendi di sungai.

Mungkin eksklusifitas itulah yang membuat saya agak kurang sreg berada di tempat wisata yang terlalu ramai. Saya merasa kurang bebas untuk menjamah titik-titik indah di lokasi tersebut. Ini sangat berbeda dengan beberapa teman saya yang justru suka jika mengunjungi tempat wisata yang ramai.

Sebenarnya, sebelum dikenalkan pada Kali Kuning, saya terlebih dahulu telah mengenal Kyai Langgeng atau Gembira Loka. Tapi tetap saja, pesona kealamian Kali Kuning kala itu benar-benar merasuki jiwa hingga saya tak pernah melupakannya.

Saya bersyukur karena Bapak telah mengajarkan untuk berteman dan mencintai alam sejak kecil. Tak perlu takut, cemas, atau bingung saat berada dalam dekapannya. Ia tak menyakiti, justry melindungi :)

Ah ya, beberapa minggu yang lalu saya dan keluarga sempat mengunjungi Ketep, Umbul Ponggok, Pantai Glagah, juga Pantai Klayar dan Goa Gong di Pacitan. Tapi tetap saja, selama di perjalanan, kami justru mengenang Kali Kuning. Apa kabar ia sekarang?

Sabtu, 25 Oktober 2014

Pain


I always think that what happened to us, that what he have done to me, is something usual. Other people have some problem. Betrayal, ignorance, suspicion. It all come to a relationship.

But now, i realized. It different.

That time, i felt It very, very, hurts. Deeply hurts. Still, i thought time and space will erase it. I let my mind flew with the wind, flew beneath time. Thought time will kindly erase it.

First year, it still hurts. So many memory: happiness, pain, love, sadness.

Second year. The pain has gone. But the memory still there, the bad one and the good one.

Third year. The pain recovered perfectly. The good memory has gone, forever. Even his face, voice, touch. But It still there.  The bad memory. It never disappear.

Have my heart wicked? 

I pray to The God.  God, please spread them with happiness. Don't you give them something that they couldn't fight, like mine. I pray for their love. Hope it will last forever. Not like mine. I let them happy. 

At first, I feel happy for them. Or, maybe, i just pretend to. 

Have my heart wicked? 
Beneath the prayer, i want to curse them. 
Beneath the happy face, the pain is still tapping. 

Jumat, 17 Oktober 2014

Otak-otak

Edisi memanfaatkan ikan segar yang nemu di Pasar Kliwon, saya dan adik iseng-iseng buat otak-otak bandeng.

Harusnya sih dibungkus pakai kulit kembang tahu trus dikukus dan digoreng. Karena nggak nemu kulit kembang tahu dan demi pengiritan minyak, eh, mengurangi kolesterol, akhirnya kami memanggang alih-alih mengukus dan kemudian menggoreng.

Ternyata kalau dibakar aromanya lebih sedap looh. Sayangnya teksturnya jadi nggak selembut yang dikukus. Kalau saya dan adik sih lebih suka yang dikukus :3

Homemade Meatball Part 2

Bisa membuat baso sendiri adalah mimpi saya sejak lama. Lha wong pencinta bakso, masak ga bisa bikin bakso sendiri.

Nah, berhubung momen yang tepat tiba-tiba datang, akhirnya impian untuk membuat bakso sapi dari daging segar bisa direalisasikan. Horeee :D love you idul adha.

Dengan bahan daging segar yang baru saja disembelih, ternyata bakso yang dihasilkan jadi lebih "waaaah". Saya sampe bercucuran air mata waktu proses pemasukan bola-bola baso ke dalam air mendidih dan kemudian mencicipi hasilnya :"). *maklum belum profesional, harap dimaafkan*

Creme Caramel

Iseng-iseng nganggur ga jelas, akhirnya jadilah camilan ini, creme caramel (kalau Eugenie mbacanya kreme karamella)

Proses membuatnya cukup menyenangkan dan bahan-bahannya sangaaat mudah didapat. Cuma butuh susu, telur, gula, dan bahan tambahan lain seperti pinch of salt dan vanila.

Yang paling menyenangkan dari prosesnya tentu saja saat membalik mangkuk puding dan mengeluarkan si puding.  Seneeeng banget ketika melihat karamel tumpah bak lava. Soalnya si karamel ini dalam suhu normal biasanya beku dan keras, tapi ternyata setelah masuk kulkas bisa mencair gitu. Ih wao #ndeso

Yang rempong cuma proses manggangnya karena mangkuk puding harus diletakkan di nampan/loyang dan nampan itu harus diberi air mendidih dengan ketinggian setengah dari tinggi loyang. Proses itu kalau nggak salah, nama lainnya adalah au bain merie. Emm, mungkin akan lebih simple kalau menggunakan soblok ya?
Membuat camilan macam puding selalu membuat saya galau antara pengen banget dan nggak pengen. Soalnya puding kan unyu, apalagi creme caramel ini cara pembuatannya tergolong unik, bikin pengen nyoba. Tapi sayang kalau kebanyakan makan bisa bikin asupan kalori berlebih xD

Minggu, 03 Agustus 2014

Homemade Meatball

Setelah kemarin berbahagia sepanjang hari soalnya ketemu temen-temen dan silaturrahim ke rumah guru-guru SMA, hari ini kegundahan tiada tara melanda saya.

Penyebabnya cuma gara-gara ada tegangan listrik yang tak seimbang antara saya dan dia. Sepele saja. Tak perlu dicemaskan karena durasi konslet itu tak selama biasanya. *siapa juga yang mau nyemasin*
Eniwei, setelah kemarin merengek-rengek pada ibu agar dikasih sisa daging sapi untuk bahan percobaan.membuat bakso, hari ini ibu mengultimatum saya agar segera mengolah daging sapi itu. Jika tidak, ibu akan memasaknya menjadi entah apa. Ini jelas-jelas membuat saya yang hobi mager--semenjak berhenti magang di Detik--jadi terpojok.

Tak disangka-sangka, perpaduan antara kegundahan dan keadaan terdesak dapat menghasilkan energi yang menakjubkan. Dengan energi itu, saya yang pecicilan, ceroboh, dan sering gudubrakan ini berhasil membuat bakso.

Yeah, bakso! Makanan favorit sayaaaa..... ^^

Ternyata membuat bakso nggak terlalu susah lho. Tinggal giling daging sampai halus. Campur bumbu. Ratakan. Dinginkan di freezer. Dibentuk. Masukin air panas. Rebus. Masukin air es.

Sayangnya karena baru pertama kali mencoba, bakso cetakan tangan saya belum serapiBakso Ceger belakang kampus STAN yang dulu jadi favorit anak-anak, apalagi bakso mas Adam di PJMI yang dalemnya ada potongan dagingnya -__- Yeah, bakso perdana saya bentuknya nggak bulat sempurna. Beberapa bakso juga mlethek dan permukaannya nggak halus. Biar nggak malu-maluin, saya ambil yang paling rapi buat difoto :p


Soal rasa? Kata adik-adik, enak. *Sayangnya mereka hanya kenal enak dan enak banget*
Yang jelas, karena homemade, bisa dijamin kebersihan dan bahan-bahannya: bebas penyedap buatan, MSG, boraks, pengenyal, pemutih, dsb. Jadi lebih syehat, terutama buat ibu hamil dan anak-anak :3

Baiklah, selain bercita-cita jadi penjual pempek kito galo, saya juga mungkin berencana mengembangkan sayap di bidang perbaksoan. Semoga suatu saat bisa bikin yang kayak punya Mas Adam :D

Bukan kata orang

Kata orang dia dan aku seperti keenan dan kugy. Dia lihai menggoreskan kehidupan di atas sebuah kanvas. Sedang aku selalu tenggelam dalam kata dan cerita.

Dia boleh jadi Keenan. Tapi aku berharap aku bukan Kugy.

Dan kamu bukan Remi

Agar aku tidak meninggalkanmu.

Kita

Sekarang kita terpisah, berjalan di sisi yang berseberangan.

Sebenarnya aku ingin berada di sisi yang sama denganmu, tapi bukan di sisimu.

Minggu, 20 Juli 2014

Pempek Kito Galo

Seperti judulnya, sekarang saya lagi bener-bener galau. Galau apa? Enggak tau, yang penting galau ajah. Biar kaya anak muda masa kini yang bawaannya galau terus.

Oke, oke. Jujur, sebenarnya saya galau karena kepastian pelaksanaan TKD tak kunjung tiba. Sudah hampir satu tahun saya diombang-ambingkan dan di-PHP. Katanya TKD dalam waktu dekat lah, TKD sudah sangat dekat lah. *Oke mari positif thingking aja*

Hal kedua yang membuat saya tidak kalah galau, yang juga merupakan penyebab dari kegalauan pertama, adalah karena mood untuk belajar TKD tak kunjung muncul. Padahal ya, temen-temen udah pada belajar dari awal tahun 2014 lalu sejak ada pengumuman kalau TKD akan dilaksanakan dalam waktu dekat. (((((dilaksanakan dalam waktu dekat))))) Mereka kerap mendapat skor di atas 400 saat try out. Lah saya? 350 aja udah alhamdulillah.

Itu tadi dua penyebab mengapa akhir-akhir ini saya dirundung gundah gulana. Untuk masalah percintaan walaupun enggak sukses-sukses amat, bisa lah ya dikesampingkan *padahal kalau lagi berantem bawaannya nangis kejer-kejer terus*. Masalah lain seperti kantong yang cekak setelah dua bulan berhenti magang di Detik.com juga bisa dikesampingkan walaupun kadang bikin saya dirundung nestapa.

Ah iya, mengisi waktu luang ini, sementara saya masih malas belajar, iseng-iseng saya melakukan hal-hal kreatif di rumah. Mulai sari membuat gambar sketsa, nulis, masak, hingga menggergaji kayu untuk dibuat kandang kelinci.

Nah, salah satu resep yang saya jajal adalah resep pempek. Sebelumnya, saya dan ibu pernah mencoba membuatnya dan berakhir gagal total. Waktu itu, pempek buatan kami berakhir seperti cilok super lebar tanpa bentuk yang sangat sangat alot.

Sekarang, entah sumber resep yang emang TOP begete atau saya yang sudah sedikit feminin, pempek kali ini berakhir di puncak gemilang cahaya alias sukses abis. Langsung melejit ke level kampal selam tanpa melalui level lenjer. Ini dia penampakannya. Imut kan?


Soal rasa jangan ditanya. Karena pakai sari putri duyung, pempek ini rasanya, em...semacam itu deh. Hehe. Sepertinya masih harus coba lagi pakai ikan tengiri atau gabus. Kata Enci Sonya, kalau pakai ikan gabus rasanya enak dan pempeknya lebih putih.

Pokoknya udah siap lah ya kalau misalnya besok ditempatin di Palembang atau nikah sama orang Palembang :D *ups.

Jumat, 18 Juli 2014

Nugget Petaka

Selain gold, glory, dan gospel, food adalah salah satu hal lain yang bisa membawa kebahagiaan atau petaka. Akan ada kebahagiaan tatkala seseorang bersedia berbagi makanan pada mereka yang kekurangan. Ada petaka ketika segelintir orang menjadi terlalu berkuasa tanpa memikirkan orang-orang lain di bawah yang kelaparan dan didera kemiskinan.

Eniwei, ini homemade nugget pertama saya. Nggak terlalu mengecewakan bukan penampilannya? Rasanya? Beuuuh, jangan ditanya. Creamy inside, crispy outside. Adik-adik saya sampai selalu berebut mana potongan yang paling besar. Mereka bahkan menyembunyikan nugget saya untuk menggoda.

Lucunya lagi, kemarin si bungsu memutuskan untuk tidak puasa dan menggoreng nugget gara-gara kami baru bangun ketika imsya telah berkumandang. (Aku nggak yakin, ia membatalkan puasa karena kurang sahur atau karena teperdaya nugget. Soalnya kan, dia udah masuk SMP -.-)

Soal mengunggah foto makanan di instagram, sudah sejak lama saya ingin melakukannyan. Namun, selalu saja urung saya lakukan.  Meski bukan tujuan sebenarnya, entah mengapa, mengunggah foto makanan di instagram terlihat seperti sedang pamer di mata saya. Alhasil, kebanyakan fto makanan karya saya cuma mejeng di gallery pribadi, tumblr, atau blog.

salom!

Minggu, 13 Juli 2014

Lagi

Pertanda itu kembali menemuiku dan membisikkan angin busuk--teramat busuk hingga membuat hatiku seolah diperas habis sarinya--di telingaku. Aku tahu, mau tak mau, sudi tak sudi, suatu saat hari itu memang akan terjadi. Sama seperti sebelumnya.

Kurasa sari pati hatiku telah habis tak bersisa kala itu. Jadi aku mengira, kali ini tak ada saripati setitik pun untuk kabar busuk ini sehingga aku akan disergap rasa hampa alih-alih kesedihan. Tapi sari pati hati ternyata bisa kembali tumbuh meski ia telah diperas atau diisap habis sampai ke sumbernya, selama kau masih manusia.

Sial! Sekarang makhluk keji itu telah datang dan bersemayam di sudut sana.

Rabu, 09 Juli 2014

Alam Pikir: di Balik Pilpres 9 Juli 2014

Terlalu banyak membaca novel-novel dengan kisah penuh intrik, polemik, dan konspirasi membuat pikiran saya sedikit menyimpang dari pikiran orang lain pada umumnya.

Misalnya ketika melihat kebakaran kios-kios kumuh. Saya akan berpikir: jangan-jangan itu kebakaran rekayasa biar seseorang bisa mendirikan supermall di lahan bekas kebakaran yang melompong itu. Atau, ketika membaca tentang merebaknya MERS. Itu terasa janggal di mata saya. Bagaimana mungkin unta yang sudah beratus-ratus tahun ada di timur tengah, baru sekarang menyebarkan virus berbahaya? Jangan-jangan itu.. Ah, tapi itu cuma 'jangan-jangan' saja kok :D

Pemilihan umum tahun 2014 ini, terasa sangat ricuh bagi saya. Saya selalu berdecak tiap membuka jejaring sosial macam Facebook atauTwitter. Masing-masing pendukung sepertinya sangat bersemangat membela calonnya sekaligus memengaruhi orang lain. Tapi tak jarang, mereka jadi terlalu bersemangat menjatuhkan calon yang lain. Ini yang membuat mata terasa sepet.

Si ini mendukung calon yang ini, si itu mendukung calon yang itu: itu sah-sah saja. Tapi sayangnya, banyak yang kemudian jadi fanatik: selalu mencari kejelekan calon lawan, mengagung-agungkan kebaikan calon yang dijagokan, menutup mata pada kebaikan calon lawan, menutup mata akan keburukan calon yang dijagokan.

Ini semakin mirip chauvinisme ala Hitler saja, bedanya, yang diagung-agungkan bukan lagi ras, tapi hanya calon presiden. Dan fenomena ini, yang semakin terasa kental saat mendekari hari H pemilu, tidak juga pudar setelah pemilu usai. Mungkin, besok pun, ketika calon terpilih memimpin, akan muncul hujatan-hujatan lain seperti saat masa kampanye.

Di artjog festival, ada sebuah lukisan yang menarik minat saya. Di lukisan itu, terlihat orang-orang yang sedang gontok-gontokan satu sama lain. Mereka tidak sadar jika sebenarnya sedang dikendalikan oleh seekor kucing besar berwarna oranye. Si kucing besar ini tampak menikmati mainannya. Ia juga tidak sadar jika dirinya sebenarnya dikendalikan dua sosok manusia yang lebih besar.

Kurang lebih, seperti itulah bayangan saya tentang keadaan saat ini. Terlalu banyak berkhayal ya? Heheh. But, who knows?

Ada pihak asing yang takut kalau calon itu menjadi presiden. Apa sebabnya? Ada juga orang yang rela membuat situs berita abal-abal sebagai sarana menjelek-jelekkan capres yang ini. Apa sebabnya?  Masing-masing pasti punya motif sendiri.

Perseteruan dua capres tahun ini mengingatkan saya pada perseteruan terselubung antara Sukarno dan Suharto tahun 1960-an lalu.

Ketika mengamati latar belakang calon yang itu, keluarganya, backgroundnya, bisa jadi orang-orang di belakangnya adalah keturunan orang-orang yang dulu pernah melakukan kudeta yang tak terendus. Sedang ketika mengamati orang-orang di belakang calon yang satunya lagi, bisa jadi mereka adalah keturunan orang-orang yang dulu kecipratan kekuasaan ketika ada yang mendaulat sebagai presiden seumur hidup.

Tapi sejak dulu hingga kini, penyebab semua pembantaian, penjajahan, dan kekejian atas kemanusiaan hanya satu: gold. Menurut saya, glory dan gospel hanyalah pameo.

Terpilihnya calon yang itu mungkin akan melicinkan jalan bisnis dan pundi-pundi emas untuk pihak-pihak tertentu, Terpilihnya calon ini mungkin akan melicinkan bisnis dan aliran pundi-pundi emas bagi pihak yang lain. Semua mungkin. Ini tetang generasi berbeda dari penguasa-penguasa yang sama.

Jika dulu penjajah memperebutkan repah di bumi nusantara melalui raja-raja dan penguasa pribumi, bukan tidak mungkin kini mereka memperebutkan tambang berharga melalui pelaku-pelaku politik di negeri ini.

Ou yeah, saya semakin ngelantur.

Yang jelas, seperti pesan simbah, jangan jadi fanatik pada calon tertentu. Fanatik membuat seseorang menjadi gelap mata. Pelajari kebaikan keduanya, amati dan kritisi kekurangannya.  (aih, saya harusnya menuliskan pesan ini jauh hari sebelum pilpres)

Sabtu, 21 Juni 2014

Lelaki Pencinta Buku


Katanya seseorang cenderung suka pada lawan jenis dengan kegemaran yang sama. 

Sama-sama suka membaca buku, misalnya, lalu saling suka gara-gara tak sengaja bersentuhan tangan ketika hendak mengambil buku yang sama. Sama-sama suka lihat bola dan kemudian jatuh cinta di malam-malam saat mereka nonton bola bersama. Sama-sama suka bulu tangkis dan rasa cinta tumbuh seiring pukulan-pukulan yang melambung meninggi. Atau sama-sama suka bermain drama lantas jatuh cinta ketika memerankan drama yang sama.

Tapi aku justru belum pernah satu kali pun naksir cowok yang suka membaca buku atau menulis.

Padahal, buku dan menulis adalah duniaku. Buku adalah satu-satunya dunia yang selalu sudi menerimaku kembali, meski ia pernah kutinggalkan hingga berapa lama, meski saat kembali padanya,  jiwaku tak selalu murni.

Penulis dengan sesama penulis, musikus dengan sesama musikus, fotografer dengan sesama fotografer. Bukankan itu terlihat manis? Berduet menciptakan karya, menghabiskan malam-malam bersama di studio yang sama, atau menorehkan nama besar di dunia yang sama.

Mungkin hukum fisika benar-benar berlaku padaku: dua kutub yang sama akan saling tolak-menolak dan dua kutub berbeda akan saling tarik-menarik.

Ini bukan berarti aku lantas benci orang yang suka membaca loh. Enggak kok, aku tetep suka. Suka banget malah. Bersama pergi ke toko buku, menghabiskan berjam-jam untuk membaca, saling mengabarkan buku-buku bagus yang baru saja dibaca, atau heboh mendiskusikan sebuah buku. Yah, hanya saja kedekatan yang terjalin antara aku dengan cowok pencinta buku—atau menulis—biasanya bukan dalam ranah romasa. (Meski kadang beberapa orang menyalahartikan kedekatan itu)

Kenapa? Aku juga tidak tahu. Mungkin karena hukum fisika.

Lelaki pertama, sebut saja begitu, bukan seorang yang menggemari buku. Pun menulis. Sejak kecil dunianya ada pada gambar dan lukisan yang ia torehkan pada selembar kertas atau kanvas. Entah berapa banyak piala yang telah ia raih sejak usianya masih dini. Pun ketika di SMA, ia termasuk 3 ilustrator kondang di sekolah dan kerap mendapat pujian dari guru seni rupa. *Ini bukan promosi*

Sisi manis darinya—ini baru kusadari beberapa waktu lalu—adalah memberikan sebuah buku sekaliber dan sekeren The Alchemist-nya Paulo Coelho padaku. Tanpa kusadari, ia memperkenalkanku padaku genre yang belum pernah kumasuki sebelumnya. (Yeah, sebelumnya aku hanya banyak membaca fiksi fantasi -_-)

Lalu, si Lelaki. Sebut saja begitu.

Ia sama sekali tak suka buku. Pernah suatu ketika aku mengajaknya ke toko buku. Ia terlihat sangat gelisah dan seolah ingin beranjak pergi. Baru kali itu aku melihat reaksi yang seperti itu.

“Kamu kok kayak gelisah begitu?” tanyaku padanya.
“Aku merasa terasing di sini. Merasa terintimidasi.”
Sontak aku tertawa, dan cengengesan mem-bully-nya. Tapi kuputuskan untuk mengenalkan sedikit keajaiban duniaku padanya. “Sebentar ya. Aku mau mendengarkan suara-suara buku yang memanggilku.”
“Memanggil? Bagaimana bisa? Bagaimana caranya?”
Aku menarik lengannya menuju sehamparan buku. “Sini. Begini caranya...” *trik ini rahasia*
Dan ia hanya tertawa.

Hal yang sama juga terjadi padaku ketika aku diajaknya menonton siaran bola kesukaannya. Dari HP. Oh itu mungkin saja karena aku melihatnya dari HP. Mungkin jika melihat dari layar televisi yang lebar, akan lain ceritanya.

Ada beberapa cowok lain yang sempat menarik perhatianku. Tapi mereka juga bukan pembaca buku atau penulis. Si itu adalah orang yang gemar main game, si itu adalah orang yang gemar mengutak-atik komputer, si itu adalah orang yang gemar bermain futsal, dan si itu adalah orang yang gemar bermusik.

Tapi mamas di gambar ilustrasi kok cakep ya >.< *OOT*

Kamis, 19 Juni 2014

Buku-buku yang Memanggil

Pernah enggak, merasa dipanggil oleh sebuah buku? Kamu nggak kenal buku itu, belum pernah mendengar orang lain ngomongin, dan kalau dilihat dari covernya, beuuuh, cover itu nggak-kamu-banget. Namun, entah mengapa, kamu tiba-tiba merasa terpanggil untuk membelinya. Aneh bukan?

Aku pernah.

Ada beberapa buku asing yang memanggilku. Sebelumnya aku nggak pernah baca ulasan tentang buku itu, tak pernah mendengar teman menceritakannya, juga tak direkomendasikan oleh siapa pun. Ketika berjalan-jalan di toko buku atau pameran, well, tiba-tiba saja buku itu memanggil.

"Hei, sobat. Aku tak setenar Harry Potter, Lord of The Ring, atau Supernova. Tapi kau tak akan menyesal membeliku." Mungkin begitu yang akan ia ucapkan kalau bisa berbicara.

Menjawab rasa heranku, seorang teman bilang, kita biasanya akan terpanggil oleh buku yang berfrekuensi sama dengan jiwa kita.

Kadang aku bersyukur karena lebih sering menggunakan panggilan-panggilan jiwa buku ketimbang rutin membaca sinopsis. Bisa dibayangkan, kalau rajin kepo di Goodreads atau blog resensi buku, pasti aku bakal kalap beli buku karena mengira semua buku itu bagus. Bagaimana pun juga, opini si resensor akan memengaruhi, kan?

Buku pertama yang memanggilku dengan kuatnya adalah Bartimaeus Trilogy: Amulet of Samarkand. Buku ini covernya sangat iuuh, bergambar makhluk seram yang sama sekali nggak imut, bukan-gue-banget lah kalau istilah anak muda zaman sekarang. Dan setelah dibaca, aku benar-benar tenggelam ke dalamnya dan cinta mati sama karakternya. Aku pun membeli buku kedua, ketiga, dan bahkan sekuelnya. Well, hanya sedikit teman yang tahu tentang Bartimaeus ini, di antaranya adalah Santi, yang tertarik stelah kupinjami, dan Pandu yang tiba-tiba nyaut ketika aku update status di FB. Dan Khabib.

Imut-imut, eh?

Yang kedua adalah Existere karya Sinta Yudisia. Sebelumnya, seperti apa itu Existere atau siapa Sinta Yudisia, aku belum pernah tahu (oke, mungin aku terlalu kuper). Tapi, wah, setelah membacanya, kepuasan tiada tara menyelimuti perasaan dan pikiran ini! Benar-benar membuka mata. Genre buku ini juga sangat berbeda dengan buku-buku yang sering kubeli loh.



Yang ketiga ialah Ring of Fire, sebuah catatan perjalanan dua orang asing di pedalaman-pedalaman Indonesia. Aku juga belum pernah dengar tentang buku itu--meski ternyata perjalanan dua orang asing itu telah difilmkan di BBC. Saat melihatnya di pameran, tiba-tiba buku itu memanggil agar aku menghampiri. Dan aku pun membelinya. Lagi-lagi, genre buku ini juga tidak sama dengan dua buku di atas.



Yang terakhir, Manusia Langit. Entah apa yang memanggil--cerita atau harga--aku pun membelinya. Dan, wao, banyak hal yang kupelajari dari buku itu. Budaya. Antropologi. Meski, yah, endingnya agak dipaksakan.



Jangan takut makan enak. Buku ini buku kesehatan. Hehe. Covernya juga biasa saja: hijau polos dengan tulisan JANGAN TAKUT MAKAN ENAK besar-besar. Tapi sukaaa banget bacanya.



Pernah mendengar keempat buku tadi? Yah, memang tidak terlalu terkenal sih... (Atau mungkin aku yang cupu karena setengah-setengah cari informasi, hehe)

Selain empat buku tadi, ada juga beberapa buku lain yang memanggil saya tapi tak terdengar terlalu kuat. Misalnya Skulduggery Pleasant, Kereta tidur (kumcer), 100 Resep Sederhana Orang-orang Bahagia, Balance Your Life Balance Your Hormon, Catatan Harian Seorang Mafia Pajak, Topi Selebar Langit (Terry Prachet), Amba, Wizard of Earthsea, City of Ember (sebelum difilmkan), Mitos dan Fakta Kesehatan, Beyond the Deepwoods, Knife, The Alchemist and The Angel,.... Ups, kalau disebutkan semua, bisa-bisa saya menyebutkan hampir semua koleksi novel di rak buku saya dong :p

Juga ada beberapa buku yang memanggil tapi saya urung membelinya hingga kini hanya sesal yang ada. Misalnya Cantik Itu Luka (Eka Kurniawan), ini yang paling nyesek banget karena sekarang susah dicari.

Pernah nggak, merasa terpanggil oleh sebuah buku dan kemudian menyesal?
Pernah!

Sebenarnya lebih tepatnya saya merasa terpanggil oleh covernya. Waktu itu saya sedang berjalan-jalan di toko buku. Tiba-tiba pandangan saya diusik oleh peri di sebuah sampul buku. Cantik dan elegan! Itu selera saya banget, peri yang cantik dan misterius! Tapi saya tidak serta merta membelinya. Pada kesempatan lain, dengan tidak terlalu yakin, saya pun membelinya. Ah, ternyata saya kecewa. Frekuensi kami, saya dan buku itu, ternyata berbeda :(

Nah, mungkin pepatah bijak yang mengatakan "don't judge a book by its cover" itu memang perlu diingat setiap saat.