Tampilkan postingan dengan label abstrak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label abstrak. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 07 Maret 2015

Rumor

Sejak dulu, membayangkan bagaimana menjadi orang dewasa selalu membuat pikiran saya campur aduk. Enggan karena konon menjadi orang dewasa tak semenyenangkan apa yang terlihat. Enggan karena menjadi dewasa mungkin akan kehilangan semangat dan keceriaan khas kanak-kanak. Enggan karena saya harus bertanggung jawab secara penuh untuk setiap hal yang saya perbuat. 

Sabtu, 25 Oktober 2014

Pain


I always think that what happened to us, that what he have done to me, is something usual. Other people have some problem. Betrayal, ignorance, suspicion. It all come to a relationship.

But now, i realized. It different.

That time, i felt It very, very, hurts. Deeply hurts. Still, i thought time and space will erase it. I let my mind flew with the wind, flew beneath time. Thought time will kindly erase it.

First year, it still hurts. So many memory: happiness, pain, love, sadness.

Second year. The pain has gone. But the memory still there, the bad one and the good one.

Third year. The pain recovered perfectly. The good memory has gone, forever. Even his face, voice, touch. But It still there.  The bad memory. It never disappear.

Have my heart wicked? 

I pray to The God.  God, please spread them with happiness. Don't you give them something that they couldn't fight, like mine. I pray for their love. Hope it will last forever. Not like mine. I let them happy. 

At first, I feel happy for them. Or, maybe, i just pretend to. 

Have my heart wicked? 
Beneath the prayer, i want to curse them. 
Beneath the happy face, the pain is still tapping. 

Rabu, 09 Juli 2014

Alam Pikir: di Balik Pilpres 9 Juli 2014

Terlalu banyak membaca novel-novel dengan kisah penuh intrik, polemik, dan konspirasi membuat pikiran saya sedikit menyimpang dari pikiran orang lain pada umumnya.

Misalnya ketika melihat kebakaran kios-kios kumuh. Saya akan berpikir: jangan-jangan itu kebakaran rekayasa biar seseorang bisa mendirikan supermall di lahan bekas kebakaran yang melompong itu. Atau, ketika membaca tentang merebaknya MERS. Itu terasa janggal di mata saya. Bagaimana mungkin unta yang sudah beratus-ratus tahun ada di timur tengah, baru sekarang menyebarkan virus berbahaya? Jangan-jangan itu.. Ah, tapi itu cuma 'jangan-jangan' saja kok :D

Pemilihan umum tahun 2014 ini, terasa sangat ricuh bagi saya. Saya selalu berdecak tiap membuka jejaring sosial macam Facebook atauTwitter. Masing-masing pendukung sepertinya sangat bersemangat membela calonnya sekaligus memengaruhi orang lain. Tapi tak jarang, mereka jadi terlalu bersemangat menjatuhkan calon yang lain. Ini yang membuat mata terasa sepet.

Si ini mendukung calon yang ini, si itu mendukung calon yang itu: itu sah-sah saja. Tapi sayangnya, banyak yang kemudian jadi fanatik: selalu mencari kejelekan calon lawan, mengagung-agungkan kebaikan calon yang dijagokan, menutup mata pada kebaikan calon lawan, menutup mata akan keburukan calon yang dijagokan.

Ini semakin mirip chauvinisme ala Hitler saja, bedanya, yang diagung-agungkan bukan lagi ras, tapi hanya calon presiden. Dan fenomena ini, yang semakin terasa kental saat mendekari hari H pemilu, tidak juga pudar setelah pemilu usai. Mungkin, besok pun, ketika calon terpilih memimpin, akan muncul hujatan-hujatan lain seperti saat masa kampanye.

Di artjog festival, ada sebuah lukisan yang menarik minat saya. Di lukisan itu, terlihat orang-orang yang sedang gontok-gontokan satu sama lain. Mereka tidak sadar jika sebenarnya sedang dikendalikan oleh seekor kucing besar berwarna oranye. Si kucing besar ini tampak menikmati mainannya. Ia juga tidak sadar jika dirinya sebenarnya dikendalikan dua sosok manusia yang lebih besar.

Kurang lebih, seperti itulah bayangan saya tentang keadaan saat ini. Terlalu banyak berkhayal ya? Heheh. But, who knows?

Ada pihak asing yang takut kalau calon itu menjadi presiden. Apa sebabnya? Ada juga orang yang rela membuat situs berita abal-abal sebagai sarana menjelek-jelekkan capres yang ini. Apa sebabnya?  Masing-masing pasti punya motif sendiri.

Perseteruan dua capres tahun ini mengingatkan saya pada perseteruan terselubung antara Sukarno dan Suharto tahun 1960-an lalu.

Ketika mengamati latar belakang calon yang itu, keluarganya, backgroundnya, bisa jadi orang-orang di belakangnya adalah keturunan orang-orang yang dulu pernah melakukan kudeta yang tak terendus. Sedang ketika mengamati orang-orang di belakang calon yang satunya lagi, bisa jadi mereka adalah keturunan orang-orang yang dulu kecipratan kekuasaan ketika ada yang mendaulat sebagai presiden seumur hidup.

Tapi sejak dulu hingga kini, penyebab semua pembantaian, penjajahan, dan kekejian atas kemanusiaan hanya satu: gold. Menurut saya, glory dan gospel hanyalah pameo.

Terpilihnya calon yang itu mungkin akan melicinkan jalan bisnis dan pundi-pundi emas untuk pihak-pihak tertentu, Terpilihnya calon ini mungkin akan melicinkan bisnis dan aliran pundi-pundi emas bagi pihak yang lain. Semua mungkin. Ini tetang generasi berbeda dari penguasa-penguasa yang sama.

Jika dulu penjajah memperebutkan repah di bumi nusantara melalui raja-raja dan penguasa pribumi, bukan tidak mungkin kini mereka memperebutkan tambang berharga melalui pelaku-pelaku politik di negeri ini.

Ou yeah, saya semakin ngelantur.

Yang jelas, seperti pesan simbah, jangan jadi fanatik pada calon tertentu. Fanatik membuat seseorang menjadi gelap mata. Pelajari kebaikan keduanya, amati dan kritisi kekurangannya.  (aih, saya harusnya menuliskan pesan ini jauh hari sebelum pilpres)

Sabtu, 21 Juni 2014

Lelaki Pencinta Buku


Katanya seseorang cenderung suka pada lawan jenis dengan kegemaran yang sama. 

Sama-sama suka membaca buku, misalnya, lalu saling suka gara-gara tak sengaja bersentuhan tangan ketika hendak mengambil buku yang sama. Sama-sama suka lihat bola dan kemudian jatuh cinta di malam-malam saat mereka nonton bola bersama. Sama-sama suka bulu tangkis dan rasa cinta tumbuh seiring pukulan-pukulan yang melambung meninggi. Atau sama-sama suka bermain drama lantas jatuh cinta ketika memerankan drama yang sama.

Tapi aku justru belum pernah satu kali pun naksir cowok yang suka membaca buku atau menulis.

Padahal, buku dan menulis adalah duniaku. Buku adalah satu-satunya dunia yang selalu sudi menerimaku kembali, meski ia pernah kutinggalkan hingga berapa lama, meski saat kembali padanya,  jiwaku tak selalu murni.

Penulis dengan sesama penulis, musikus dengan sesama musikus, fotografer dengan sesama fotografer. Bukankan itu terlihat manis? Berduet menciptakan karya, menghabiskan malam-malam bersama di studio yang sama, atau menorehkan nama besar di dunia yang sama.

Mungkin hukum fisika benar-benar berlaku padaku: dua kutub yang sama akan saling tolak-menolak dan dua kutub berbeda akan saling tarik-menarik.

Ini bukan berarti aku lantas benci orang yang suka membaca loh. Enggak kok, aku tetep suka. Suka banget malah. Bersama pergi ke toko buku, menghabiskan berjam-jam untuk membaca, saling mengabarkan buku-buku bagus yang baru saja dibaca, atau heboh mendiskusikan sebuah buku. Yah, hanya saja kedekatan yang terjalin antara aku dengan cowok pencinta buku—atau menulis—biasanya bukan dalam ranah romasa. (Meski kadang beberapa orang menyalahartikan kedekatan itu)

Kenapa? Aku juga tidak tahu. Mungkin karena hukum fisika.

Lelaki pertama, sebut saja begitu, bukan seorang yang menggemari buku. Pun menulis. Sejak kecil dunianya ada pada gambar dan lukisan yang ia torehkan pada selembar kertas atau kanvas. Entah berapa banyak piala yang telah ia raih sejak usianya masih dini. Pun ketika di SMA, ia termasuk 3 ilustrator kondang di sekolah dan kerap mendapat pujian dari guru seni rupa. *Ini bukan promosi*

Sisi manis darinya—ini baru kusadari beberapa waktu lalu—adalah memberikan sebuah buku sekaliber dan sekeren The Alchemist-nya Paulo Coelho padaku. Tanpa kusadari, ia memperkenalkanku padaku genre yang belum pernah kumasuki sebelumnya. (Yeah, sebelumnya aku hanya banyak membaca fiksi fantasi -_-)

Lalu, si Lelaki. Sebut saja begitu.

Ia sama sekali tak suka buku. Pernah suatu ketika aku mengajaknya ke toko buku. Ia terlihat sangat gelisah dan seolah ingin beranjak pergi. Baru kali itu aku melihat reaksi yang seperti itu.

“Kamu kok kayak gelisah begitu?” tanyaku padanya.
“Aku merasa terasing di sini. Merasa terintimidasi.”
Sontak aku tertawa, dan cengengesan mem-bully-nya. Tapi kuputuskan untuk mengenalkan sedikit keajaiban duniaku padanya. “Sebentar ya. Aku mau mendengarkan suara-suara buku yang memanggilku.”
“Memanggil? Bagaimana bisa? Bagaimana caranya?”
Aku menarik lengannya menuju sehamparan buku. “Sini. Begini caranya...” *trik ini rahasia*
Dan ia hanya tertawa.

Hal yang sama juga terjadi padaku ketika aku diajaknya menonton siaran bola kesukaannya. Dari HP. Oh itu mungkin saja karena aku melihatnya dari HP. Mungkin jika melihat dari layar televisi yang lebar, akan lain ceritanya.

Ada beberapa cowok lain yang sempat menarik perhatianku. Tapi mereka juga bukan pembaca buku atau penulis. Si itu adalah orang yang gemar main game, si itu adalah orang yang gemar mengutak-atik komputer, si itu adalah orang yang gemar bermain futsal, dan si itu adalah orang yang gemar bermusik.

Tapi mamas di gambar ilustrasi kok cakep ya >.< *OOT*

Sabtu, 07 Juni 2014

Jalan Memutar


Dulu, ketika membaca Perahu Kertas-nya Dee, aku belum paham benar kegalauan yang dirasakan Kugy. Kini, aku mulai paham. Sedikit.

Setiap penulis punya jenis tulisan yang disukainya. Mungkin fiksi, fiksi fantasi, science fiction, nonfiksi, atau sastra. Kugy suka dongeng dan ia ingin jadi penulis dongeng anak. Sayangnya, dongeng anak kurang laku di dunia Perahu Kertas. Itulah mengapa Kugy galau bukan main. Dia sempat beralih menulis cerita-cerita cinta di majalah, sampai kritikan dari Keenan menyadarkannya. Bagus, tapi seperti nggak hidup.

Dan, sepertinya itu juga terjadi di dunia nyata. Aku jadi curiga kalau itu sebenarnya bentuk kritikan Dee terhadap dunia percetakan di Indonesia.

“Penerbit itu jualan, kan?” Begitu kata CEO salah satu penerbit mayor di Indonesia.

Makannya penerbit pasti hanya menerima naskah-naskah yang kira-kira diminati pasar saja. Untuk fiksi,  yang diminati adalah novel-nove bertemakan romance. Yang ringan, tentu saja. Ini khusus untuk penulis pemula lho. Soalnya, kalau penulis besar, sepelik apa pun judul yang ia sodorkan, akan ada orang-orang yang terlanjur jatuh cinta pada karyanya. Serumit apa pun judulnya, akan ada orang-orang yang terlalu sayang untuk melewatkan.

Aku menyayangkan minimnya minat pembaca Indonesia terhadap buku-buku sastra.

Sejak SMP, aku terlanjur mencekoki diriku sendiri dengan fiksi-fiksi terjemahan. Waktu itu, tak kukenal siapa itu NH Dini atau Marah Rusli. Yang kukenal malah JK Rowling, RL Stine, Tolkien, Eva Ibbotson, Road Dahl, Sir Arthur Conan Doyle, Terry Prachet, Ursula K Leguin, dan sebangsanya. (Maka beruntunglah mereka yang sudah mengenal NH Dini sejak SMP)

Waktu itu, aku menganggap, kebanyakan buku remaja terlalu ringan untuk kubaca, kurang menantang, dan kurang imajinatif. Yeah, aku tahu ini salah.

Makannya sejak kuliah, tepatnya ketika memasuki semester empat, aku mulai membuka kesempatan pada karya-karya Indonesia. Aku mulai membaca buku-buku Indonesia. Supernova adalah novel pertama yang berhasil mencuri hatiku.

Bagiku, novel fiksi yang keren adalah yang bisa memancingku untuk berpikir, bertanya-tanya, atau menebak apa maksud si pengarang. Dan itu kutemui pada novel-novel sastra. Ada sesuatu yang misterius, disembunyikan, dan aku suka ketika berhasil menemukannya. 

Bagiku, sastra memberi kebebasan bagi penulis untuk mengutarakan isi kepala tanpa harus terlalu lugas. Bagiku, sastra adalah teman yang mau mendengarkan segala keluh kesahku, tanpa orang lain harus tahu apa arti sebenarnya.

Maka, ketika sastra adalah sesuatu yang kurang diminati di pasaran, dan kamu sangat ingin terlibat di dalamnya, pilihlah jalan berputar. Besarkan namamu sembari menggodok kemampuanmu. Setelah namamu besar, keluarkan apa yang telah kau godok selama bertahun-tahun.

Voila!

Selamat berjuang, temanku, Ranger Cyan! Juga Ranger Kuning!

Selasa, 03 September 2013

Setengah Hati

Pernahkah merasakan jantung hatimu terbelah jadi dua? Yang separuh entah di mana, yang jelas ia terpisah jauh darimu, dan yang separuh lagi ada bersamamu. Aku pernah. Rasanya setegah senang dan setengah nelangsa.

People said, home is where your heart belongs to. And its become complicated when you go home (to your house) and separated away from the one you love (where your heart belongs to). Where is your heart actually?

Mungkin terkadang orang hanya tak mengerti apa itu definisi rumah dan jantung hati. Mungkin juga terkadang ada banyak tanya yang tak akan pernah bersua dengan jawaban.

If home is where your heart belongs to, then how much heart people have?
More than one I think.

Mungkinkah jantung-jantung hati itu telah habis karena kita memberikannya pada orang-orang yang kita cintai? Ayah, Ibu, Saudara, sahabat, someone special.
Pasti jantung hati itu sangat banyak jumlahnya.

I think, I have two home.

PS: just randomly posted what i thought. And found its hard to cook it into a real paragraph. Maybe I have too much slack time.

Selasa, 11 Juni 2013

Botol Suara

Aku terjatuh pada suaramu yang merdu bagai alunan lagu.
Jika bisa, akan kutangkap suaramu, lantas kumasukkan ke dalam botol kaca. Akan kuletakkan ia di bibir jendela, untuk menarikku dari mimpi setiap pagi

Minggu, 09 Juni 2013

Maut

Terkadang aku takut bayangku semakin memudar lantas menghilang tanpa sesumbar.  Terkadang aku kalut jika suatu saat desau kabut membuat bayangku hanyut dalam kemelut waktu. Terkadang aku takut jika semburat kenangan akan laut dan kita, lebur memudar begitu saja. Terkadang aku takut jika suatu saat bayangku tak lagi sanggup tinggal dalam kepalamu.

Terkadang aku kalut jika warnaku tak mampu mengusir cemberut dari sudut wajahmu. Terkadang aku takut daya bayangku tak mampu menorehkan stitik warna dan menghapus duka lara. Terkadang aku kalut memikirkan maut yang terus menerus menimbulkan carut marut.

Tapi tak perlu takut, katamu. Bisikkan saja pada maut agar menggambil apa yang membuatmu takut. Tak perlu kalut, katamu. Karena maut pasti akan segera menyulut racun pada rajut raga. Apa yang membuatmu takut, pasti tersengat lantas mati terkejut.

Ah, tapi, yang membuatku takut itu diriku.
Masih bolehkah aku memohon pada maut?


Sabtu, 18 Mei 2013

Lagi

Lagi,
jasadmu kembali hadir
dalam pesona bagai lentera elendil
Senyata bilangan ganjil

Bahkan aku dapat melihat warna rona jiwamu
Juga seolah menangkap serpihan senyummu
Hingga aku tak dapat lagi membedakan
Mimpikah?
Nyatakah?

Repost. Kali ketiga aku bertemu denganmu, dalam mimpi. Entah kapan


Kamis, 01 November 2012

Probabilitas

Probabilitas nisbi,
satu di antara tiga puluh sembilan
satu per tiga puluh sembilan di antara tiga puluh epat.
Kamu!
Eventhough I really want to,
the probably to meet is to small.





Kisahku berbeda dengan kisahmu, kawan. Mungkin saja pada kisahmu ada banyak peluang beterbaran di udara. Di rumah yang kau singgahi, di jalanan yang biasa kau lewati, atau di ruangan tempatmu biasa bermusik.

Ketika kau melintasi jalan itu dan ingin menengok sesaat ke arah gitar dambaanmu itu, terkadang, kau menemukannya sedang gamang memandangmu. Terkadang pula, tanpa disangka ia memainkan musiknya hingga nada-nada melankolis itu mempir sejenak menyegarkan sanubarimu. Terkadang ia memang sengaja menunggumu di penghujung partirtur itu, menukar waktunya dengan probabilitas menemukan senyummu.

Aku?

Rabu, 17 Oktober 2012

Terbentur dan Pet!

Sekarang tiba-tiba saya kalut. Entah apakah ini karena faktor internal  yakni siklus hormon dalam tubuh, ataukah faktor eksternal yang jumlahnya berjibun. Rasanya seperti...Pet! Tiba-tiba seluruh ide dalam kepala saya hilang seolah dimatikan dengan paksa. Jangan tanya sebabnya, saya pun masih dalam masa menduga-duga, apakah faktor internal atau eksternal.

*Sepertinya blog ini memanghanya berisi kekalutan semata. Baiklah, setidaknya masih dalam batasan berfaedah.*

Saya akui, akhir-akhir ini saya jarang membaca buku. Ada kesenangan baru soalnya,

Minggu, 23 September 2012

Kau dan Rembulan


Pernahkah kamu merasa, tiba-tiba tertarik masuk ke dalam sebuh kisah dan seolah dipaksa menjadi tokoh utama?  Kamu senang bukan main, seolah mendapat sebuah kepercayaan yang mulia tiada tara. Namun semakin kamu menjalaninya, semakin kamu tersadar: kamu bukanlah tokoh utama dalam kisah itu.

Aku hanyalah pameo. Kau? entah apa. 

Kamis, 20 September 2012

Tetesan Bintang : Sebuah Salam


Selamat malam bintang.

Apa kabar? Tampaknya kau semakin bersinar terang, bergumul bersama bintang lain, membentuk gugusan indah di samping Andromeda. Lama tak bersua, pun aku bercerita padamu.

Malam ini aku hanya menyampaikan sebuah salam, dari kekasihmu, Tetes.

Bintang, kau tahu? Tampaknya kekasih lamamu telah berada pada fase dimana ia perlahan-lahan dapat melepas ketiadaanmu di sisinya. Kini ia sedang mengudara, tinggi, hingga ke angkasa sana, mencapai awan. Di sana ia bersemayam dan bersiap dalam ritual pengorbanan dirinya untuk kehijauan planetnya.

Iya, melayang, seperti yang selalu diimpikannya selama ini. Namun setinggi apapun ia melayang, tak akan sanggup melampaui ataupun menggapai dirimu, Bintang. Sekuat apapun ia mentransformasikan partikel dirinya menjadi gumpalan H2O, tubuhnya tidak akan sanggup menerpa panas atmosfer ketiadaan yang menjadi pembatas kalian.

Ia mulai mengikhlaskanmu, Bintang. Seperti

Selasa, 19 Juni 2012

Asing

Kupandangi foto-foto dalam dokumen itu, dokumen yang seingatku sangat berharga. Dokumen yang seingatku, dulu sering sekali kubuka berulang kali. Namun tiba-tiba aku merasa asing. Pada diriku sendiri dan pada sosok di sampingku.

Siapakah engkau yang bersanding di sampingku? rasanya aku mengenal senyum jenaka itu. Walau agak tertahan, namun tetap terasa hangat 

Sepertinya aku pernah mengenalmu.
tapi..
Kini kau bukan lagi orang yang sama.
Ataukah aku yang bukan-lagi-orang-yang-sama.

I used to know you...

Siang, di atas tempat tidur, di samping jendela dengan pemandangan langit biru dan pepohonan  melambai tertiup angin
"bagaimana rasanya menjadi seorang yang tervonis alzheimer"


Rabu, 13 Juni 2012

Bukan Kamu




Kali ini,
Jalinan kisah yang sama
Momen senja yang sama
Jalan berilalang yang sama
Namun terasa berbeda
Ah, sepertinya memang bukan kamu

Bukan, jika secepat itu


Rabu, 13 Juni 2012
Ketika ilalang perlahan menghilang

Jumat, 08 Juni 2012

Kabut


Perahkah kau merasakan?
Hidup, menyerap kehidupan
Berada, bercengkrama
Mencari diri, mencari kawan
Di sebuah tempat indah dengan aroma religi mengudara disetiap penjuru,
yang sebentar lagi punah
Di sebuah wadah dengan hingar bingar pesta budaya,
yang sebentar lagi tak eksis
Hanya karena atmosfer politik
Hanya karena pernyataan sepihak anggota legislasi
Pernahkah?

Aku iya. Namun khawatir sebatas khawatir. Sebesar apapun rasa khawatir ini, tak akan sanggup membekukan suhu politik, atau melelehkan kicuan media yang kerap mencerca. 

Kamis, 31 Mei 2012

Kisah yang lain: Cinta Kuantum


Ini kisah cinta yang lain, yang tak sengaja tertabrak ketika aku berlari tergesa-gesa, mengejar serpihan-serpihan mimpi. Ia terlihat lemah, koyak, dan hampir patah. Dari sisa nafasnya ia bercerita, dari sorot matanya ia menyenandungkan kisahnya.

Sang Pencinta yang kutemui ini adalah salah satu korban. Korban candu cinta, yang manis di awal, dan sepah di akhir.

Di awal kisah,

Selasa, 29 Mei 2012

Dua di Satu yang Sama


Pernahkan kalian merasakan kesedihan yang datang berturut-turut? Satu, dua, tiga, empat, lima, enam. Pernahkah kau merasa semua orang tiba-tiba meninggalkanmu? Dia, dia, dia, dia, dan dia. Semakin dihitung semakin banyak, semakin disadari, semakin menyedihkan rasanya.

Tapi buat apa menangisi kehilangan jika energi dari kesedihan itu tak mampu mendatangkan kembali yang hilang. Lebih baik kita ubah energi kesedihan itu digunakan untuk

Rabu, 23 Mei 2012

pujangga


Siapakah gerangan dirimu? Wahai Pujangga yang mampu membuat gadis itu tersenyum lebar, menepis segala kerinduannya selama ini. Walau hanya dengan perantara monitor dan keyboard yang akan mati tanpa elemen bernama listrik. Siapakah dirimu, yang mampu menghapuskan tangis syahdunya di malam-malam itu. Walau hanya dengan untaian kata yang tak kuasa kau ucapkan langsung padanya. Aku tahu jika kau rela menukarkan segalanya agar mampu bersua, bercakap-cakap langsung dengannya. Kau pasti rindu akan senyumnya yang manis bukan? Juga rindu akan sorot matanya yang laksana hijau di belantara Arizona. Meneduhkan.

Siapakah gerangan dirimu? Wahai yang mengaguminya tulus dari lubuk sanubari. Ku rasa aku mengerti benih yang melahirkan kekagumanmu padanya. Aku pun menyanjungnya layaknya engkau. Dalam artian dan cara yang berbeda, mungkin.

Caranya memandang dunia, membuat aku