Sabtu, 07 Maret 2015
Rumor
Sabtu, 25 Oktober 2014
Pain
Rabu, 09 Juli 2014
Alam Pikir: di Balik Pilpres 9 Juli 2014
Terlalu banyak membaca novel-novel dengan kisah penuh intrik, polemik, dan konspirasi membuat pikiran saya sedikit menyimpang dari pikiran orang lain pada umumnya.
Misalnya ketika melihat kebakaran kios-kios kumuh. Saya akan berpikir: jangan-jangan itu kebakaran rekayasa biar seseorang bisa mendirikan supermall di lahan bekas kebakaran yang melompong itu. Atau, ketika membaca tentang merebaknya MERS. Itu terasa janggal di mata saya. Bagaimana mungkin unta yang sudah beratus-ratus tahun ada di timur tengah, baru sekarang menyebarkan virus berbahaya? Jangan-jangan itu.. Ah, tapi itu cuma 'jangan-jangan' saja kok :D
Pemilihan umum tahun 2014 ini, terasa sangat ricuh bagi saya. Saya selalu berdecak tiap membuka jejaring sosial macam Facebook atauTwitter. Masing-masing pendukung sepertinya sangat bersemangat membela calonnya sekaligus memengaruhi orang lain. Tapi tak jarang, mereka jadi terlalu bersemangat menjatuhkan calon yang lain. Ini yang membuat mata terasa sepet.
Si ini mendukung calon yang ini, si itu mendukung calon yang itu: itu sah-sah saja. Tapi sayangnya, banyak yang kemudian jadi fanatik: selalu mencari kejelekan calon lawan, mengagung-agungkan kebaikan calon yang dijagokan, menutup mata pada kebaikan calon lawan, menutup mata akan keburukan calon yang dijagokan.
Ini semakin mirip chauvinisme ala Hitler saja, bedanya, yang diagung-agungkan bukan lagi ras, tapi hanya calon presiden. Dan fenomena ini, yang semakin terasa kental saat mendekari hari H pemilu, tidak juga pudar setelah pemilu usai. Mungkin, besok pun, ketika calon terpilih memimpin, akan muncul hujatan-hujatan lain seperti saat masa kampanye.
Di artjog festival, ada sebuah lukisan yang menarik minat saya. Di lukisan itu, terlihat orang-orang yang sedang gontok-gontokan satu sama lain. Mereka tidak sadar jika sebenarnya sedang dikendalikan oleh seekor kucing besar berwarna oranye. Si kucing besar ini tampak menikmati mainannya. Ia juga tidak sadar jika dirinya sebenarnya dikendalikan dua sosok manusia yang lebih besar.
Kurang lebih, seperti itulah bayangan saya tentang keadaan saat ini. Terlalu banyak berkhayal ya? Heheh. But, who knows?
Ada pihak asing yang takut kalau calon itu menjadi presiden. Apa sebabnya? Ada juga orang yang rela membuat situs berita abal-abal sebagai sarana menjelek-jelekkan capres yang ini. Apa sebabnya? Masing-masing pasti punya motif sendiri.
Perseteruan dua capres tahun ini mengingatkan saya pada perseteruan terselubung antara Sukarno dan Suharto tahun 1960-an lalu.
Ketika mengamati latar belakang calon yang itu, keluarganya, backgroundnya, bisa jadi orang-orang di belakangnya adalah keturunan orang-orang yang dulu pernah melakukan kudeta yang tak terendus. Sedang ketika mengamati orang-orang di belakang calon yang satunya lagi, bisa jadi mereka adalah keturunan orang-orang yang dulu kecipratan kekuasaan ketika ada yang mendaulat sebagai presiden seumur hidup.
Tapi sejak dulu hingga kini, penyebab semua pembantaian, penjajahan, dan kekejian atas kemanusiaan hanya satu: gold. Menurut saya, glory dan gospel hanyalah pameo.
Terpilihnya calon yang itu mungkin akan melicinkan jalan bisnis dan pundi-pundi emas untuk pihak-pihak tertentu, Terpilihnya calon ini mungkin akan melicinkan bisnis dan aliran pundi-pundi emas bagi pihak yang lain. Semua mungkin. Ini tetang generasi berbeda dari penguasa-penguasa yang sama.
Jika dulu penjajah memperebutkan repah di bumi nusantara melalui raja-raja dan penguasa pribumi, bukan tidak mungkin kini mereka memperebutkan tambang berharga melalui pelaku-pelaku politik di negeri ini.
Ou yeah, saya semakin ngelantur.
Yang jelas, seperti pesan simbah, jangan jadi fanatik pada calon tertentu. Fanatik membuat seseorang menjadi gelap mata. Pelajari kebaikan keduanya, amati dan kritisi kekurangannya. (aih, saya harusnya menuliskan pesan ini jauh hari sebelum pilpres)
Sabtu, 21 Juni 2014
Lelaki Pencinta Buku
Tapi mamas di gambar ilustrasi kok cakep ya >.< *OOT*
Sabtu, 07 Juni 2014
Jalan Memutar
Selasa, 03 September 2013
Setengah Hati
People said, home is where your heart belongs to. And its become complicated when you go home (to your house) and separated away from the one you love (where your heart belongs to). Where is your heart actually?
Mungkin terkadang orang hanya tak mengerti apa itu definisi rumah dan jantung hati. Mungkin juga terkadang ada banyak tanya yang tak akan pernah bersua dengan jawaban.
If home is where your heart belongs to, then how much heart people have?
More than one I think.
Mungkinkah jantung-jantung hati itu telah habis karena kita memberikannya pada orang-orang yang kita cintai? Ayah, Ibu, Saudara, sahabat, someone special.
Pasti jantung hati itu sangat banyak jumlahnya.
I think, I have two home.
PS: just randomly posted what i thought. And found its hard to cook it into a real paragraph. Maybe I have too much slack time.
Selasa, 11 Juni 2013
Botol Suara
Jika bisa, akan kutangkap suaramu, lantas kumasukkan ke dalam botol kaca. Akan kuletakkan ia di bibir jendela, untuk menarikku dari mimpi setiap pagi
Minggu, 09 Juni 2013
Maut
Terkadang aku kalut jika warnaku tak mampu mengusir cemberut dari sudut wajahmu. Terkadang aku takut daya bayangku tak mampu menorehkan stitik warna dan menghapus duka lara. Terkadang aku kalut memikirkan maut yang terus menerus menimbulkan carut marut.
Tapi tak perlu takut, katamu. Bisikkan saja pada maut agar menggambil apa yang membuatmu takut. Tak perlu kalut, katamu. Karena maut pasti akan segera menyulut racun pada rajut raga. Apa yang membuatmu takut, pasti tersengat lantas mati terkejut.
Ah, tapi, yang membuatku takut itu diriku.
Masih bolehkah aku memohon pada maut?
Sabtu, 18 Mei 2013
Lagi
jasadmu kembali hadir
dalam pesona bagai lentera elendil
Senyata bilangan ganjil
Bahkan aku dapat melihat warna rona jiwamu
Juga seolah menangkap serpihan senyummu
Hingga aku tak dapat lagi membedakan
Mimpikah?
Nyatakah?
Repost. Kali ketiga aku bertemu denganmu, dalam mimpi. Entah kapan
Kamis, 01 November 2012
Probabilitas
Probabilitas nisbi,satu di antara tiga puluh sembilan
satu per tiga puluh sembilan di antara tiga puluh epat.
Kamu!
Eventhough I really want to,
the probably to meet is to small.
Kisahku berbeda dengan kisahmu, kawan. Mungkin saja pada kisahmu ada banyak peluang beterbaran di udara. Di rumah yang kau singgahi, di jalanan yang biasa kau lewati, atau di ruangan tempatmu biasa bermusik.
Ketika kau melintasi jalan itu dan ingin menengok sesaat ke arah gitar dambaanmu itu, terkadang, kau menemukannya sedang gamang memandangmu. Terkadang pula, tanpa disangka ia memainkan musiknya hingga nada-nada melankolis itu mempir sejenak menyegarkan sanubarimu. Terkadang ia memang sengaja menunggumu di penghujung partirtur itu, menukar waktunya dengan probabilitas menemukan senyummu.
Rabu, 17 Oktober 2012
Terbentur dan Pet!
*Sepertinya blog ini memanghanya berisi kekalutan semata. Baiklah, setidaknya masih dalam batasan berfaedah.*
Saya akui, akhir-akhir ini saya jarang membaca buku. Ada kesenangan baru soalnya,
Minggu, 23 September 2012
Kau dan Rembulan
Kamis, 20 September 2012
Tetesan Bintang : Sebuah Salam
Selasa, 19 Juni 2012
Asing
Siapakah engkau yang bersanding di sampingku? rasanya aku mengenal senyum jenaka itu. Walau agak tertahan, namun tetap terasa hangat
Sepertinya aku pernah mengenalmu.
tapi..
Kini kau bukan lagi orang yang sama.
Ataukah aku yang bukan-lagi-orang-yang-sama.
I used to know you...
Siang, di atas tempat tidur, di samping jendela dengan pemandangan langit biru dan pepohonan melambai tertiup angin
"bagaimana rasanya menjadi seorang yang tervonis alzheimer"
Rabu, 13 Juni 2012
Bukan Kamu
Rabu, 13 Juni 2012
Ketika ilalang perlahan menghilang
Jumat, 08 Juni 2012
Kabut
Kamis, 31 Mei 2012
Kisah yang lain: Cinta Kuantum
Selasa, 29 Mei 2012
Dua di Satu yang Sama
Rabu, 23 Mei 2012
pujangga









