lagi-lagi aku tiba di penghujung sebuah pertemuan,
perpisahan.
Dan lagi-lagi aku harus berpisah dengan salah seorang dari
keluarga yang amat kusayangi. Entah mengapa harus ia, mengapa harus dari mereka.
Satu per satu secara perlahan namun pasti, anggota kami di sini mulai
berkurang. Dan lagi-lagi, aku tidak bisa mencegahnya.
Namun setidaknya perpisahan kami kali ini dihiasi dengan
senyum. Si pria-bocah tengil itu memutuskan untuk keluar dari tempat ini dengan
suka rela. Ia memang ingin pergi, dengan keputusannya sendiri. Bukan karena
indek prestasi yang pas-pasan atau melanggar segepok peraturan. Melepas seorang
yang kami sayangi, berat memang. Tapi itu jalan yang ia pilih.
Kuakui. Ia pemberani. Ia adalah seorang





