Tampilkan postingan dengan label pemilu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pemilu. Tampilkan semua postingan

Rabu, 09 Juli 2014

Alam Pikir: di Balik Pilpres 9 Juli 2014

Terlalu banyak membaca novel-novel dengan kisah penuh intrik, polemik, dan konspirasi membuat pikiran saya sedikit menyimpang dari pikiran orang lain pada umumnya.

Misalnya ketika melihat kebakaran kios-kios kumuh. Saya akan berpikir: jangan-jangan itu kebakaran rekayasa biar seseorang bisa mendirikan supermall di lahan bekas kebakaran yang melompong itu. Atau, ketika membaca tentang merebaknya MERS. Itu terasa janggal di mata saya. Bagaimana mungkin unta yang sudah beratus-ratus tahun ada di timur tengah, baru sekarang menyebarkan virus berbahaya? Jangan-jangan itu.. Ah, tapi itu cuma 'jangan-jangan' saja kok :D

Pemilihan umum tahun 2014 ini, terasa sangat ricuh bagi saya. Saya selalu berdecak tiap membuka jejaring sosial macam Facebook atauTwitter. Masing-masing pendukung sepertinya sangat bersemangat membela calonnya sekaligus memengaruhi orang lain. Tapi tak jarang, mereka jadi terlalu bersemangat menjatuhkan calon yang lain. Ini yang membuat mata terasa sepet.

Si ini mendukung calon yang ini, si itu mendukung calon yang itu: itu sah-sah saja. Tapi sayangnya, banyak yang kemudian jadi fanatik: selalu mencari kejelekan calon lawan, mengagung-agungkan kebaikan calon yang dijagokan, menutup mata pada kebaikan calon lawan, menutup mata akan keburukan calon yang dijagokan.

Ini semakin mirip chauvinisme ala Hitler saja, bedanya, yang diagung-agungkan bukan lagi ras, tapi hanya calon presiden. Dan fenomena ini, yang semakin terasa kental saat mendekari hari H pemilu, tidak juga pudar setelah pemilu usai. Mungkin, besok pun, ketika calon terpilih memimpin, akan muncul hujatan-hujatan lain seperti saat masa kampanye.

Di artjog festival, ada sebuah lukisan yang menarik minat saya. Di lukisan itu, terlihat orang-orang yang sedang gontok-gontokan satu sama lain. Mereka tidak sadar jika sebenarnya sedang dikendalikan oleh seekor kucing besar berwarna oranye. Si kucing besar ini tampak menikmati mainannya. Ia juga tidak sadar jika dirinya sebenarnya dikendalikan dua sosok manusia yang lebih besar.

Kurang lebih, seperti itulah bayangan saya tentang keadaan saat ini. Terlalu banyak berkhayal ya? Heheh. But, who knows?

Ada pihak asing yang takut kalau calon itu menjadi presiden. Apa sebabnya? Ada juga orang yang rela membuat situs berita abal-abal sebagai sarana menjelek-jelekkan capres yang ini. Apa sebabnya?  Masing-masing pasti punya motif sendiri.

Perseteruan dua capres tahun ini mengingatkan saya pada perseteruan terselubung antara Sukarno dan Suharto tahun 1960-an lalu.

Ketika mengamati latar belakang calon yang itu, keluarganya, backgroundnya, bisa jadi orang-orang di belakangnya adalah keturunan orang-orang yang dulu pernah melakukan kudeta yang tak terendus. Sedang ketika mengamati orang-orang di belakang calon yang satunya lagi, bisa jadi mereka adalah keturunan orang-orang yang dulu kecipratan kekuasaan ketika ada yang mendaulat sebagai presiden seumur hidup.

Tapi sejak dulu hingga kini, penyebab semua pembantaian, penjajahan, dan kekejian atas kemanusiaan hanya satu: gold. Menurut saya, glory dan gospel hanyalah pameo.

Terpilihnya calon yang itu mungkin akan melicinkan jalan bisnis dan pundi-pundi emas untuk pihak-pihak tertentu, Terpilihnya calon ini mungkin akan melicinkan bisnis dan aliran pundi-pundi emas bagi pihak yang lain. Semua mungkin. Ini tetang generasi berbeda dari penguasa-penguasa yang sama.

Jika dulu penjajah memperebutkan repah di bumi nusantara melalui raja-raja dan penguasa pribumi, bukan tidak mungkin kini mereka memperebutkan tambang berharga melalui pelaku-pelaku politik di negeri ini.

Ou yeah, saya semakin ngelantur.

Yang jelas, seperti pesan simbah, jangan jadi fanatik pada calon tertentu. Fanatik membuat seseorang menjadi gelap mata. Pelajari kebaikan keduanya, amati dan kritisi kekurangannya.  (aih, saya harusnya menuliskan pesan ini jauh hari sebelum pilpres)

Minggu, 30 Maret 2014

Pemilu: Di Balik Tradisi Konvoi Kampanye

(Foto: Solo Blitz)
(Bukan berarti saya ada apa-apa dengan partai merah ini lho ya)
Mendekati pemilihan umum alias pemilu, konvoi motor alias kampanya menjadi hal yang tidak jarang ditemui kala bepergian. Beramai-ramai mereka mengendarai motor, mengenakan atribut mencolok ala partai masing-masing, dan tak jarang, memainkan mesin motor (diblong) hingga mengeluarkan suara keras nan mengganggu. Istilah jawanya 'mblayer'

Sungguh mengganggu perjalanan, atau setidaknya itu pendapat saya. Pasalnya mereka sering sekali menimbulkan kemacetan. Sudah bising, kadang anarkis, bikin macet pula. Siapa yang bakal simpati?

Saya rasa mereka pun, yang ikut-ikutan konvoi itu, sebenarnya paham kalau rasa simpati masyarakat tak akan timbul dari konvoi bin 'mblayer-mblayer' tak jelas itu. Yah, setidaknya mereka yang mengenyam pendidikan seharusnya sadar.

Siapa sih yang suka dihambat rombongan konvoi berisik ketika sedang terburu-buru bertemu klien? Siapa sih yang mau perjalanan berobat ke rumah sakit dihambat rombongan orang-orang yang 'mblayer-mblayer' nggak jelas? Atau, siapa sih, yang ingin jalanan yang biasanya sudah cukup ramai harus semakin dipenuhi rombongan orang berpakaian mencolok yang berkendara lambat-lambat nan berisik?

Yang suka, silakan angkat tangan. Saya sih, tidak akan.

Lah, lantas mengapa mereka masih juga berkonvoi tak jelas? Bukankah seharusnya mereka tahu bahwa masyarakat tidak akan lantas mencoblos partai mereka karena 'tersentuh' melihat konvoi beramai-ramai yang super berisik itu?

Saya bukan pakar psikologi atau pakar politik yang ahli masalah kejiwaan. Tapi menurut saya, mungkin orang-orang itu hanya butuh ajang saja untuk menyalurkan hasrat mereka.

'Hasrat'? Ya, hasrat. Hasrat untuk berkumpul-kumpul, beramai-ramai, membuat kegaduhan.

Selain masa kampanye, tak ada lagi even yang bisa mewadahi hasrat ini. Kapan lagi coba, bisa berkumpul-kumpul membuat kebisingan di jalan tanpa ditegur atau ditindak polisi? Setelah pengumuman kelulusan ujian SMA atau SMP? Pasti akan segera ditenangkan oleh pihak berwajib.

Ya, kapan lagi kalau bukan di masa-masa mendekati Pemilu ini. Hanya orang tidak waras yang sudi mblayer-mblayer di jalan, sendirian, saat tak ada even apa pun. Malu, dan pasti akan mendapat protes keras dari pengguna jalan yang lain. Tapi  tentu beda  kan, kalau beramai-ramai?

Semoga tradisi konvoi 'mblayer-mlayer ini tidak terus berlanjut.