Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 07 Maret 2015

Rumor

Sejak dulu, membayangkan bagaimana menjadi orang dewasa selalu membuat pikiran saya campur aduk. Enggan karena konon menjadi orang dewasa tak semenyenangkan apa yang terlihat. Enggan karena menjadi dewasa mungkin akan kehilangan semangat dan keceriaan khas kanak-kanak. Enggan karena saya harus bertanggung jawab secara penuh untuk setiap hal yang saya perbuat. 

Sabtu, 21 Juni 2014

Lelaki Pencinta Buku


Katanya seseorang cenderung suka pada lawan jenis dengan kegemaran yang sama. 

Sama-sama suka membaca buku, misalnya, lalu saling suka gara-gara tak sengaja bersentuhan tangan ketika hendak mengambil buku yang sama. Sama-sama suka lihat bola dan kemudian jatuh cinta di malam-malam saat mereka nonton bola bersama. Sama-sama suka bulu tangkis dan rasa cinta tumbuh seiring pukulan-pukulan yang melambung meninggi. Atau sama-sama suka bermain drama lantas jatuh cinta ketika memerankan drama yang sama.

Tapi aku justru belum pernah satu kali pun naksir cowok yang suka membaca buku atau menulis.

Padahal, buku dan menulis adalah duniaku. Buku adalah satu-satunya dunia yang selalu sudi menerimaku kembali, meski ia pernah kutinggalkan hingga berapa lama, meski saat kembali padanya,  jiwaku tak selalu murni.

Penulis dengan sesama penulis, musikus dengan sesama musikus, fotografer dengan sesama fotografer. Bukankan itu terlihat manis? Berduet menciptakan karya, menghabiskan malam-malam bersama di studio yang sama, atau menorehkan nama besar di dunia yang sama.

Mungkin hukum fisika benar-benar berlaku padaku: dua kutub yang sama akan saling tolak-menolak dan dua kutub berbeda akan saling tarik-menarik.

Ini bukan berarti aku lantas benci orang yang suka membaca loh. Enggak kok, aku tetep suka. Suka banget malah. Bersama pergi ke toko buku, menghabiskan berjam-jam untuk membaca, saling mengabarkan buku-buku bagus yang baru saja dibaca, atau heboh mendiskusikan sebuah buku. Yah, hanya saja kedekatan yang terjalin antara aku dengan cowok pencinta buku—atau menulis—biasanya bukan dalam ranah romasa. (Meski kadang beberapa orang menyalahartikan kedekatan itu)

Kenapa? Aku juga tidak tahu. Mungkin karena hukum fisika.

Lelaki pertama, sebut saja begitu, bukan seorang yang menggemari buku. Pun menulis. Sejak kecil dunianya ada pada gambar dan lukisan yang ia torehkan pada selembar kertas atau kanvas. Entah berapa banyak piala yang telah ia raih sejak usianya masih dini. Pun ketika di SMA, ia termasuk 3 ilustrator kondang di sekolah dan kerap mendapat pujian dari guru seni rupa. *Ini bukan promosi*

Sisi manis darinya—ini baru kusadari beberapa waktu lalu—adalah memberikan sebuah buku sekaliber dan sekeren The Alchemist-nya Paulo Coelho padaku. Tanpa kusadari, ia memperkenalkanku padaku genre yang belum pernah kumasuki sebelumnya. (Yeah, sebelumnya aku hanya banyak membaca fiksi fantasi -_-)

Lalu, si Lelaki. Sebut saja begitu.

Ia sama sekali tak suka buku. Pernah suatu ketika aku mengajaknya ke toko buku. Ia terlihat sangat gelisah dan seolah ingin beranjak pergi. Baru kali itu aku melihat reaksi yang seperti itu.

“Kamu kok kayak gelisah begitu?” tanyaku padanya.
“Aku merasa terasing di sini. Merasa terintimidasi.”
Sontak aku tertawa, dan cengengesan mem-bully-nya. Tapi kuputuskan untuk mengenalkan sedikit keajaiban duniaku padanya. “Sebentar ya. Aku mau mendengarkan suara-suara buku yang memanggilku.”
“Memanggil? Bagaimana bisa? Bagaimana caranya?”
Aku menarik lengannya menuju sehamparan buku. “Sini. Begini caranya...” *trik ini rahasia*
Dan ia hanya tertawa.

Hal yang sama juga terjadi padaku ketika aku diajaknya menonton siaran bola kesukaannya. Dari HP. Oh itu mungkin saja karena aku melihatnya dari HP. Mungkin jika melihat dari layar televisi yang lebar, akan lain ceritanya.

Ada beberapa cowok lain yang sempat menarik perhatianku. Tapi mereka juga bukan pembaca buku atau penulis. Si itu adalah orang yang gemar main game, si itu adalah orang yang gemar mengutak-atik komputer, si itu adalah orang yang gemar bermain futsal, dan si itu adalah orang yang gemar bermusik.

Tapi mamas di gambar ilustrasi kok cakep ya >.< *OOT*

Sabtu, 07 Juni 2014

Jalan Memutar


Dulu, ketika membaca Perahu Kertas-nya Dee, aku belum paham benar kegalauan yang dirasakan Kugy. Kini, aku mulai paham. Sedikit.

Setiap penulis punya jenis tulisan yang disukainya. Mungkin fiksi, fiksi fantasi, science fiction, nonfiksi, atau sastra. Kugy suka dongeng dan ia ingin jadi penulis dongeng anak. Sayangnya, dongeng anak kurang laku di dunia Perahu Kertas. Itulah mengapa Kugy galau bukan main. Dia sempat beralih menulis cerita-cerita cinta di majalah, sampai kritikan dari Keenan menyadarkannya. Bagus, tapi seperti nggak hidup.

Dan, sepertinya itu juga terjadi di dunia nyata. Aku jadi curiga kalau itu sebenarnya bentuk kritikan Dee terhadap dunia percetakan di Indonesia.

“Penerbit itu jualan, kan?” Begitu kata CEO salah satu penerbit mayor di Indonesia.

Makannya penerbit pasti hanya menerima naskah-naskah yang kira-kira diminati pasar saja. Untuk fiksi,  yang diminati adalah novel-nove bertemakan romance. Yang ringan, tentu saja. Ini khusus untuk penulis pemula lho. Soalnya, kalau penulis besar, sepelik apa pun judul yang ia sodorkan, akan ada orang-orang yang terlanjur jatuh cinta pada karyanya. Serumit apa pun judulnya, akan ada orang-orang yang terlalu sayang untuk melewatkan.

Aku menyayangkan minimnya minat pembaca Indonesia terhadap buku-buku sastra.

Sejak SMP, aku terlanjur mencekoki diriku sendiri dengan fiksi-fiksi terjemahan. Waktu itu, tak kukenal siapa itu NH Dini atau Marah Rusli. Yang kukenal malah JK Rowling, RL Stine, Tolkien, Eva Ibbotson, Road Dahl, Sir Arthur Conan Doyle, Terry Prachet, Ursula K Leguin, dan sebangsanya. (Maka beruntunglah mereka yang sudah mengenal NH Dini sejak SMP)

Waktu itu, aku menganggap, kebanyakan buku remaja terlalu ringan untuk kubaca, kurang menantang, dan kurang imajinatif. Yeah, aku tahu ini salah.

Makannya sejak kuliah, tepatnya ketika memasuki semester empat, aku mulai membuka kesempatan pada karya-karya Indonesia. Aku mulai membaca buku-buku Indonesia. Supernova adalah novel pertama yang berhasil mencuri hatiku.

Bagiku, novel fiksi yang keren adalah yang bisa memancingku untuk berpikir, bertanya-tanya, atau menebak apa maksud si pengarang. Dan itu kutemui pada novel-novel sastra. Ada sesuatu yang misterius, disembunyikan, dan aku suka ketika berhasil menemukannya. 

Bagiku, sastra memberi kebebasan bagi penulis untuk mengutarakan isi kepala tanpa harus terlalu lugas. Bagiku, sastra adalah teman yang mau mendengarkan segala keluh kesahku, tanpa orang lain harus tahu apa arti sebenarnya.

Maka, ketika sastra adalah sesuatu yang kurang diminati di pasaran, dan kamu sangat ingin terlibat di dalamnya, pilihlah jalan berputar. Besarkan namamu sembari menggodok kemampuanmu. Setelah namamu besar, keluarkan apa yang telah kau godok selama bertahun-tahun.

Voila!

Selamat berjuang, temanku, Ranger Cyan! Juga Ranger Kuning!

Minggu, 30 Maret 2014

Mengagumi-Dikagumi


Sebut saja namanya Mona. Ia adalah salah seorang kawan semasa olimpiade dulu, kawan seperjuangan dan kawan berbagi ruang di Puri Artha dulu. Meski lebih muda, kawan yang satu ini amat sangat berprestasi. Entah berapa piala dan medali yang telah ia gondol, entah berapa kejuaraan yang ia menangkan.

Ia langganan mengikuti olimpiade sains tingkat nasional, bukan hanya sekadar ikut meramaikan seperti saya, ia langganan menyabet medali. Ia juga pernah mendapat hadiah sebuah perjalanan ke negara tetangga sana karena memenangkan kompetisi karya tulis ilmiah. Cantik, tinggi, percaya diri, dan yang terpenting ia pintar, atau bahkan cerdas.

Entah cerdas atau pintar, saya tak tahu. Karena sampai saat ini, hanya sedikit orang saya labeli dengan predikat cerdas. Sedikit saja, namun banyak di antaranya adalah anak ‘ndugal’ yang kerap diomeli para guru kesiswaan.

Si kawan saya ini akan melangsungkan pernikahan, yang katanya dihelat Mei depan. Saya ikut gembira mendengarnya *dan bertanya-tanya kapan giliran saya :p*

Terkadang saya berpikir.

Si kawan saya ini seolah begitu sempurna, begitu berprestasi, dan dilihat dari segi fisik, ia bisa dibilang rupawan. Mungkin putri Indonesia sekali pun tak akan sanggup menandingi si kawan ini ketika mereka dihadapkan pada pertanyaan yang sama. (Tapi jelas si kawan saya ini tidak akan ikut ajang semacam puteri atau miss Indonesia karena ia memegang teguh aturan agamanya)

Sedangkan di sisi lain, banyak orang yang tidak dianugerahi kesempurnaan macam dia. Terlahir dengan penampilan biasa saja, dengan isi kepala pas-pasan, dan tanpa bakat (atau sebenarnya hanya belum menemukan saja).

Mengapa tuhan menciptakan perbedaan semacam itu? Bsnyak orang bilang, “Tuhan terkadang tidak adil” atau “takdir memang kejam”. Mungkinkah saya akan membenarkan pernyataan itu?

Saya rasa tidak. Tuhan Maha Adil. Ia menciptakan segala perbedaan, agar tercipta rasa mengagumi-dikagumi. Saya mengagumi ia, ia dikagumi saya. Dia mungkin juga mengagumi seseorang, entah siapa. Dan mungkin saja, ada seseorang, entah siapa, yang mengagumi saya.

Bukan tak mungkin, lho, seseorang yang serba hebat atau serba wah, justru mengagumi kehidupan orang lain yang serba biasa.

Si A mengagumi si B karena ia mendulang kesuksesan dalam usaha, hidup bergelimang harta, memiliki pasangan cantik nan rupawan, dan anak-anak yang selalu membanggakan. Tapi entah mengapa, si B justru mengagumi A yang selalu bahagia meski hidup sederhana, selalu “legowo”, selalu mensyukuri apa yang diberikan tuhan.

Tuhan benar-benar maha adil. Syukuri saja apa yang ia beri :)

Kamis, 27 Maret 2014

Tamu Tak Diundang


"Harga motor cowok berapaan ya?" tanyaku pada penghuni kamar kost malam tadi.

"Kayaknya sih belasan juta, iya bukan?"

"Eh, tapi ada juga yang empat puluh sembilan juta," jawab oknum W.

Seketika hati ini runtuh menjadi serpihan. Duh, mana mungkin saya punya uang sebanyak itu. Apakah harus jual motor, laptop? Saya baru ingat, itu bukan milik saya sepenuhnya. Apakah saya harus menjual semua perhiasan yang saya punya? Hanya itu harta yang saya punya, juga harga diri. *berasa emak-emak*

Saya tidak menyangka bahwa gerbang yang tadi sore terbuka tidak seperti biasa, merupakan pertanda akan tindak kriminal. Saya pikir, ada seseorang yang sedang menerima tamu lantas membiarkan gerbang terbuka secara tidak wajar. Saya tidak pernah menyangka bahwa tamu itu ternyata maling.

Malam tadi, seusai makan bersama dengan adik, tiba-tiba sebuah nomor asing memanggil. Nomor telepon rumah. Meski curiga, saya mengangkatnya. Siapa tahu itu dari seseorang di YKAKI yang tadi siang sempat saya wawancarai, karena ingin menanyakan sesuatu.

Ternyata itu dari sekretaris kantor saya.

"Halo Tiya, Ini xxx. Kamu tadi waktu pulang, gerbang kamu tutup lagi nggak?" tanyanya.

Sontak, jantung saya (seperti) berhenti sesaat. Saya tahu ada hal buruk terjadi. Kemungkinannya hanya satu, kemalingan. Barang yang dimaling juga satu kemungkinannya, motor. Membayangkan yang sore tadi saya lakukan dan saya putuskan, rasa sesal muncul. Duh, kenapa ya, gerbangnya tidak ditutup saja. Seharusnya, meski aneh, saya tetap melakukan prosedur normal.

"Enggak mbak. Tadi kubiarkan saja." jawabku, lemas. Tapi tentu saja aku menambahkan detil cerita. "Soalnya sebelumnya gerbangnya terbuka di tengah. Kupikir ada yang sengaja membuka, atau ada yang sedang menerima tamu,"

Dan ba bi bu, percakapan berlangsung selama beberapa menit. Saya menjelaskan ini itu. Dari percakapan itu, saya tahu bahwa salah seorang wartawan di kantor telah kehilangan motornya. Motor cowok, bukan motor bebek.

Pikiran saya pun melanglang ke mana-mana. Menyusuri jejak waktu menuju masa lalu dan melayang membayangkan apa yang akan terjadi. Apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana kronologinya?

Pertama. Kapan terjadinya kasus itu. Apakah sebelum saya pulang, atau sesudah saya pulang? Pasalnya kalau kejadiaan nahas itu terjadi setelah saya pulang, saya adalah orang yang harus disalahkan dan menanggung semuanya karena alpa menutup pintu gerbang.

Saya pun mereka-reka posisi motor di kantor. Saya ingat benar posisi motor ketika saya pulang, ada satu motor cowok persis di depan motor saya. Jika motor itu hilang, saya patut disalahkan.

Tapi saya juga ingat, ketika usai liputan sekitar pukul 2 siang, di lokasi itu sebelumnya ada tiga motor. Motor saya, dan dua motor nonbebek lain. Anehnya, ada satu motor yang sudah menghilang ketika saya pulang, entah dibawa pulang si empunya atau dicomot maling. Saya tidak tahu.

Motor mana yang diambil? Malam itu saya puyeng dan lemas memikirkannya. Terlepas dari rasa sedih saya karena ada rekan kerja yang telah kehilangan motor.

"Kamu aja puyeng, gimana coba yang kehilangan motor, pasti dia lebih puyeng," komentar salah satu penghuni kamar malam tadi.

Dan pagi tadi, saya langsung menanyakan semuanya pada orang-orang di kantor, sejelas mungkin. Beruntung mas-mas OB berinisial A ada di lokasi parkir motor. Saya pun menanyakan detil kejadian.

Ternyata motor yang hilang bukan motor di depan motor saya, yang notabenya motor mas A. Asumsi waktu kejadian pun semakin sempit, yakni antara kepulangan saya dan orang sebelum saya, yakni Kepala Kantor. Padahal, selang itu hanya beberapa menit saja, antara pukul 18.05 hingga sebelum pukul 18.30.

Dua motor rusak kontaknya, dicongkel. Praduga kami, maling itu mencoba mencongkel dua motor itu sebelum akhirnya beralih ke motor wartawan A yang lebih baru dan gres.

Kita memang tak pernah tahu apa yang akan terjadi. Tak ada salahnya jika melakukan tindakan pencegahan, meski akan terkesan lebay. Menurut saya, tak apa lebay, asalkan orang-orang yang berhati kelam itu tidak bisa melampiaskan kekelaman hatinya.

Untungnya lagi, motor si A sudah diasuransikan.

Kira-kira, apa yang terjadi kalau saat itu saya menutup pintu gerbang?
Waktu kejadian akan semakin sulit ditebak, saya rasa.



Senin, 24 Maret 2014

Mengapa Saya?


Membuka percakapan di layar kaca, entah via Facebook, Whats App, atau pesan singkat, terkadang tiba-tiba hati saya melengos.

"Kamu tolong ini ya...."
"Oh iya, ini juga belum. Kamu bisa kan?"
"Si ini nggak bisa soalnya lagi gitu..."

Saya terbiasa mengabdi sepenuh hati. Memberikan segala yang saya punya pada sesuatu yang kepadanya, saya tambatkan kepercayaan dan hati saya. Saya rela melakukan ini dan itu, segalanya.

Sayangnya, tak semua orang memiliki pemikiran seperti itu. Bahkan terkadang cenderung ber-aku-aku.
"Tapi aku tidak mau,"
"Aku bisa tapi..."
"Aku enggan soalnya begini,"
"Aku sedang ini jadi ini,"

Hingga terkadang saya kerap berpikir, Mengapa saya? Mengapa saya yang harus melakukannya? Di mana yang lain?

Mungkin ketika level kadar hormon sedang stabil, saya akan kalem, mengerjakan semua hal berat itu dengan tawa atau canda, sembari sesekali "berpolah". Namun terkadang, ada luapan emosi yang ada tak dapat terbendung. Belum lagi ditambah kelelahan usai perjalanan panjang, beban kewajiban diri sendiri, dan ditambah beban dari orang yang menolak, atau berhalangan hadir.

Saya rasa, tidak ada salahnya mengutarakan segala kesebalan yang ada di pikiran. Daripada terus menumpuk, membusuk, dan memicu penyakit. Mengomel, mencak-mencak, menggerutu, bukan selamanya hal negatif.

Orang butuh mengeluarkan kotoran dari dalam tubuh, melalui keringat, urin, dan feses. Begitu pula kotoran dalam hati, entah apa cara yang dipilih. Mungkin dengan doa, ibadah, bersih-bersih, mengomel, atau menulis.

Yang jelas, setiap orang punya cara masing-masing.

NB: Sedang berada di titik nadir. Teringat beberapa tahun lalu ketika saya disalahkan karena tidak hadir pada hari pertama dalam acara yang berlangsung selama dua hari. Saya berusaha datang di hari kedua, meski orangtua meminta saya tinggal. Dan setibanya di sana, setelah acara usai, saya justru seolah disidang. Padahal, saya bukan satu-satunya orang yang tidak hadir, ada beberapa yang lain. Ingatan itu, saya cuma ingin membuangnya, daripada menjadi kotoran di dalam hati.

Selamat tinggal.

Selasa, 18 Maret 2014

Trade Off


Kemarin pagi, saya berbincang-bincang dengan Bapak. Seputar kolam ikan yang sedang dibuat, tentang masa kerja kelak, dan tentang masa magang ini.

Di saat anak-anak lain memilih untuk magang di KAP (Kantor Akuntan Publik), KKP (Kantor Konsultan Pajak), dan berbagai perusahaan keuangan lain, saya justru memilih untuk megang di salah satu media online. Alasannya simple, mengejar passion sebelum besok harus benar-benar bekerja sebagai PNS di bidang keuangan.

"Anak teman bapak yang dari Pengasih magang di KAP di Jakarta. Gajinya per bulan 2,8 juta," tutur Bapak.

"Kalau di Jakarta, apalagi di perusahaan keuangan memang sekitar segitu Pak. Tapi ya, bakal lupa sama rumah. Jarang pulang. Keasikan kerja atau keasikan dapat uang banyak,"

"Iya. Memang jarang pulang. Seperti sudah kerja beneran. Padahal kan, besok kalau sudah kerja juga bakal jarang bisa pulang,"

Memang asik kerja di tempat semacam itu. Pergi ke berbagai daerah untuk melakukan pemeriksaan keuangan, sesekali sambil berjalan-jalan atau menikmati kuliner setempat. Jujur, saya juga ingin berjalan-jalan seperti itu.

Tapi memang selalu ada trade off, selalu ada pertukaran antara kesenangan yang satu dengan kesenangan yang lain. Dibanding kesenangan gaji yang lebih besar atau kesenangan melancong ke berbagai penjuru, saya lebih memilih quality time bersama keluarga dan teman-teman di kampung halaman. Saya lebih memilih momen-momen yang dulu tidak saya dapatkan semasa kuliah, atau kelak ketika sudah mengabdi pada negara.

Saya memilih magang di Jogja, meski dengan bayaran tak seberapa. Yang jelas, tiap jumat malam saya bisa pulang ke rumah, menikmati waktu 4 hari 3 malam bersama keluarga. Mencicipi masakan ibu, berbincang ngalor ngidul dengan bapak, mengusili Hikma, mengantar Dina lomba, merawat para ikan, ayam, atau hamster, menjajal resep-resep baru, atau berjalan-jalan pagi di jembatan Progo tua.

Saya memilih untuk menikmati waktu senggang bersama teman-teman semasa SMA atau SMP. Menikmati aneka kuliner di Jogja, berjalan-jalan ke pantai nan elok di Gunung Kidul, menyambangi aneka pasar hewan untuk mencari ikan, menapakkan kaki di Hutan Pinus, atau sekadar berkunjung ke rumah teman lama.

Saya lebih memilih jalanan yang lebih lengang. Tak lebih dari lima belas menit untuk ke kantor dengan mengendarai sepeda motor. Tak lebih dari dua puluh lima menit untuk pulang dari kantor dengan mengendarai sepeda.

Saya lebih memilih untuk bersatai di malam atau pagi hari. Membaca novel, menyambangi toko buku kesayangan di bilangan Jalan Affandi sembari menyaksikan ikan koi yang montok, memasak sayur, menikmati kuliner malam, menonton film bersama kawan di kost, atau terkadang, tapi sangat jarang, belajar TKD.

Mungkin saya tidak mendapat gaji di atas UMR Jakarta, 2,2 juta, seperti anak-anak lain. Tapi saya mendapat semua kebahagiaan itu. Saya mendapat semua momen indah bersama teman dan keluarga. Saya tak lagi melewatkan saat-saat ngumpul, seperti dulu. Saya bisa mengunjungi tempat-tempat yang belum saya kunjungi di Jogja. Maka, nikmat Tuhan mana yang kamu dustakan?

Dan terlebih, tempat saya magang bukan tempat biasa dengan orang-orang biasa. Detik.com adalah media online nomer satu dengan orang-orang yang lebih darisekadar biasa. Amazing! :D



Rabu, 17 Oktober 2012

Terbentur dan Pet!

Sekarang tiba-tiba saya kalut. Entah apakah ini karena faktor internal  yakni siklus hormon dalam tubuh, ataukah faktor eksternal yang jumlahnya berjibun. Rasanya seperti...Pet! Tiba-tiba seluruh ide dalam kepala saya hilang seolah dimatikan dengan paksa. Jangan tanya sebabnya, saya pun masih dalam masa menduga-duga, apakah faktor internal atau eksternal.

*Sepertinya blog ini memanghanya berisi kekalutan semata. Baiklah, setidaknya masih dalam batasan berfaedah.*

Saya akui, akhir-akhir ini saya jarang membaca buku. Ada kesenangan baru soalnya,

Kamis, 20 September 2012

Tetesan Bintang : Sebuah Salam


Selamat malam bintang.

Apa kabar? Tampaknya kau semakin bersinar terang, bergumul bersama bintang lain, membentuk gugusan indah di samping Andromeda. Lama tak bersua, pun aku bercerita padamu.

Malam ini aku hanya menyampaikan sebuah salam, dari kekasihmu, Tetes.

Bintang, kau tahu? Tampaknya kekasih lamamu telah berada pada fase dimana ia perlahan-lahan dapat melepas ketiadaanmu di sisinya. Kini ia sedang mengudara, tinggi, hingga ke angkasa sana, mencapai awan. Di sana ia bersemayam dan bersiap dalam ritual pengorbanan dirinya untuk kehijauan planetnya.

Iya, melayang, seperti yang selalu diimpikannya selama ini. Namun setinggi apapun ia melayang, tak akan sanggup melampaui ataupun menggapai dirimu, Bintang. Sekuat apapun ia mentransformasikan partikel dirinya menjadi gumpalan H2O, tubuhnya tidak akan sanggup menerpa panas atmosfer ketiadaan yang menjadi pembatas kalian.

Ia mulai mengikhlaskanmu, Bintang. Seperti

Jumat, 08 Juni 2012

Kabut


Perahkah kau merasakan?
Hidup, menyerap kehidupan
Berada, bercengkrama
Mencari diri, mencari kawan
Di sebuah tempat indah dengan aroma religi mengudara disetiap penjuru,
yang sebentar lagi punah
Di sebuah wadah dengan hingar bingar pesta budaya,
yang sebentar lagi tak eksis
Hanya karena atmosfer politik
Hanya karena pernyataan sepihak anggota legislasi
Pernahkah?

Aku iya. Namun khawatir sebatas khawatir. Sebesar apapun rasa khawatir ini, tak akan sanggup membekukan suhu politik, atau melelehkan kicuan media yang kerap mencerca. 

Selasa, 05 Juni 2012

Sahur

malam itu aku pulang agak larut alam ketika tiba-tiba terkejut saat masuk ke ruang keluarga dan melihat dua tubuh bergelimpangan.

Aku : kenapa kalian tidur di sini?
Ayik: biar bisa bangun besok buat sahur, Tiya :)
Aku : ooohh. bangunin aku juga ya :)

dan keesokan harinya Ayik membangunkanku.
Aku : *kucek-kucek mata* *tidur lagi*

beberapa menit kemudian...
aku : *berjalan ke ruang keluarga dan terkejut melihat tidak ada seorangpun yang sedang makan, atau paling enggak masak buat sahur* lhoh, ngga jadi saur?
ayik : air di galon habis... aku nggak jadi puasa aja deh
aku : *shock* *pingsan* *kayang*
aku:  ayo kita cari air buat masak, pasti ada :D



dan sahur itu terlalui dengan khidmat setelah aku mengais-ngais air.

Senin, 04 Juni 2012

Teman Duduk


Air dan garam mungkin terkadang beradu jotos, berebut siapa yang menempati permukaan. Air dan minyak barangkali terikat sumpah untuk saling tak bersentuhan. Walau sebenarnya, jauh di lubuk hati mereka menyimpan rasa saling menyayangi. Ingin selalu bersua, namuan tak kuasa karena permainan takdir.

Aku dan ia mungkin tak pernah duduk sebangku. Namun kau tak tahu bukan? Aku dan ia kerap kali mendengarkan nyanyian malam berdua. Menikmati terpaan purnama bersama sambil menyenyam sekotak es krim. Atau terkadang berlarian, kejar mengejar dan menari di bawah rintik gerimis. Aku dan dia mungkin sering duduk bersama. Namun tahukah engkau? Aku tak pernah ada di malam-malam ketika ia tertawa diantara kemilau lampu.

Aku ada di duniaku, 
dan dia di dunianya.

Persahabatan tidak sesederhana melihat teman duduk, kawan. Kau tak bisa melihat ikatan diantara kita, hanya dengan melihat kursi itu. Ia kosong tanpa kita, dan kita tak pernah dapat tergambarkan olehnya.

Siapa ia, 
siapa aku,
siapa dia,
siapa mereka,
itu bukan apa-apa.

Kau dan aku pun, selalu terpisah. Hanya kita dan Tuhan yang tahu, temali jenis apa yang mengikat kita

pembicaraan sore tadi di Student Center,
ketika tiba-tiba aku menjadi sangat defensif
Tapi tanang kawan, kita pasti bisa :)



Kamis, 31 Mei 2012

Kisah yang lain: Cinta Kuantum


Ini kisah cinta yang lain, yang tak sengaja tertabrak ketika aku berlari tergesa-gesa, mengejar serpihan-serpihan mimpi. Ia terlihat lemah, koyak, dan hampir patah. Dari sisa nafasnya ia bercerita, dari sorot matanya ia menyenandungkan kisahnya.

Sang Pencinta yang kutemui ini adalah salah satu korban. Korban candu cinta, yang manis di awal, dan sepah di akhir.

Di awal kisah,

Menangkap Cinta, Menangkap Inspirasi


Banyak kisah cinta. Betebaran bersama molekul-molekul udara, berloncatan dengan bebas. Menunggu tak sengaja tertabrak pasangan muda yang sedang bergandengan tangan. Menunggu tak sengaja terbawa kakek nenek yang sedang berjalan sambil tertawa. Menunggu tak sengaja dipungut oleh ayah dan ibu yang sedang mendorong kereta bayinya.

Kisah cintanya selalu membuatku kagum. Mereka yang mencinta dengan dewasa. Cinta yang tak posesif, cinta yang tak harus bertemu. Cinta yang saling memiliki tanpa harus menguasai. Cinta yang tak harus bersua, bertatap, dan bercakap untuk mengetahui.

Aku mencinta.
Aku merasakannya memanggil di seruluh getaran nadiku.
Aku mencinta.
Aku merasakannya berderak di setiap degub jantungku.
Aku mencinta.
Aku merasakannya pada semu merah di pipiku
Aku mencinta,
Aku  melihat pancarannya dari bulan di malam sendu
Aku mencinta.
Aku tahu.
Tapi tak tahu pada siapa.

PS: akhir-akhir ini posting-posting di blog ini selalu bertemakan cinta, dan entah mengapa berbau galau. Aku sendiri tidak tahu, tapi sepertinya udara di sekitarku diselimuti aroma cinta. Cinta yang berwarna pink, biru, dan merah membara. Dan entah mengapa syaraf penangkap inspirasiku sedikit lebih peka pada cinta yang sedikit melankolis.

Senin, 28 Mei 2012

X Adventure dan Banana Ranger


X Adventure.
Di dunia in ibanyak hal yang bertentangan.
Antara hitam dan putih, antara opini dan fakta.
Demi kebenaran dan  verifiksasi,
Demi editor dan redpel,
Ranger kuning, ranger puith, ranger biru BERSATU!

Awalnya ragu, juga kesal saat menerima pesan-pesan tentang x-adventure. Bukan hanya waktunya yang tabrakan dengan salah satu puncak kegiatan dari kepanitiaan yang kuiikuti, tapi sms-sms itu tiba-tiba saja mencemari momen-momen santaiku saat sedang makrab kelas. Belum lagi ternyata di hari sabtu ada kuliah pengganti.

Tapi insting akan petualangan dan tantangan mengalahkan segalanya. Aku memilih x adventure, resign dari kepanitiaan, dan membolos kuliah. Pilih kuliah? Itu...

Rabu, 23 Mei 2012

Edison dan Arai


Aku bukan Thomas Alfa Edison, yang pantang menyerah walau kegagalan menderanya hingga 999 kali. Yang terus mencoba walau sukses enggan menyapanya, hingga pada hitungan ke seribu. Aku bukan Edison,  walau sebenarnya aku ingin seperti dia. Aku memang tak akan menyerah hanya dengan satu, dua, atau tiga kegagalan. Namun jika puluhan kali kegagalan menderaku, toh aku juga...

pujangga


Siapakah gerangan dirimu? Wahai Pujangga yang mampu membuat gadis itu tersenyum lebar, menepis segala kerinduannya selama ini. Walau hanya dengan perantara monitor dan keyboard yang akan mati tanpa elemen bernama listrik. Siapakah dirimu, yang mampu menghapuskan tangis syahdunya di malam-malam itu. Walau hanya dengan untaian kata yang tak kuasa kau ucapkan langsung padanya. Aku tahu jika kau rela menukarkan segalanya agar mampu bersua, bercakap-cakap langsung dengannya. Kau pasti rindu akan senyumnya yang manis bukan? Juga rindu akan sorot matanya yang laksana hijau di belantara Arizona. Meneduhkan.

Siapakah gerangan dirimu? Wahai yang mengaguminya tulus dari lubuk sanubari. Ku rasa aku mengerti benih yang melahirkan kekagumanmu padanya. Aku pun menyanjungnya layaknya engkau. Dalam artian dan cara yang berbeda, mungkin.

Caranya memandang dunia, membuat aku

Minggu, 20 Mei 2012

Liburan Absurd


Dalam 3 hari ini, mobilitasku sangat tinggi. Dimulai dengan menjemput ibu di tanah abang, pergi ke rumah saudara di BSD, menemani jalan-jalan di tanah abang, menengok orang sakit di RSCM, jalan-jalan sebentar di pasar senen, ke cipulir, dan kembali lagi ke stasiun pasar senen. Jadilah tiga hari ini aku menjadi guide dadakan untuk ibuku, yang padahal, hafal daerah dan angkutan umum sekitar sini pun belum.

mereka bertiga naik troli

Yang paling tak terlupakan adalah ketika bermain bersama saudara-saudaraku, Muti, si Abang, dan Isma. Mereka bertiga benar-benar hiperaktif dan lucu. Seperti waktu kami mengantar bulek belanja di Giant

Isma: *lari-lari kesana-kemari* waa... wa...
Muti: *tiba-tiba meroda*
Abang: *stay cool*


Kemudian kami

Minggu, 13 Mei 2012

G-a-l-a-u


Pernah galau?

Pasti pernah kan. Aku enggak dong. *Tapi bohong*

Seperti semalam, tiba-tiba saja aku galau. Biasanya malam setelah ujian terahir adalah malam yang membahagiakan. Seakaan terbebas dari rantai belenggu, seakan bisa menikmati hidup sebagai mahasiswa biasa dan bersenang-senang. Bisa jalan-jalan, baca novel, baca buku, tidur sepuasnya, ngepel lantai kosan, bersihin kamar mandi, makan es krim. Seeemuanya :D
*padahal seninnya masih ujian*


Kayak mbak kosku yang tiba-tiba aja semua playlistnya berubah jadi lagu galau.

Maklum, ini kan minggu terakhir dan hari terakhir dia kuliah. Besok dia udah PKL, memasuki gerbang dunia orang dewasa dan meninggalkan kampus ini. Aku yang lagi di ruang keluarga ini pun tiba-tiba

Jumat, 11 Mei 2012

Komunikasi


Kemarin, tiba-tiba seorang teman mengirimiku sebuah pesan singkat.

“bukankah teman itu tidak harus bertemu dan komunikasi? Aku selalu begitu. Aku jarang berkomuniasi dengan teman-teman smpku, juga jarang bertemu. Tapi kami tetap teman”

Aku tertegun. Diam. Berpikir

Si teman yang mengirimkan pesan iti, adalah salah satu