Sabtu, 07 Maret 2015
Rumor
Minggu, 11 Januari 2015
Bersahabat dengan Alam
Pergi ke lokasi wisata alam kini menjadi trend dan tradisi tersendiri. Lihatlah ketika akhir pekan datang. Lokasi-lokasi wisata alam pasti penuh dijubeli pengunjung. Ini berbeda dengan 10 hingga 15 tahun yang lalu. Atau setidaknya, berbeda dengan apa yang ada di ingatan saya waktu itu.
Wisata alam pertama yang saya ingat adalah ketika saya, bapak, dan adik pergi ke kali Kuning, sebuah sungai yang masih asri di bilangan kaki Gunung Merapi. Saat itu, kira-kira ketika saya masih duduk di bangku kelas dua SD, Kali Kuning tidaklah populer, berbeda dengan saudara sepersusuannya, Kali Urang. Anehnya, ketika keluarga lain lebih suka pergi ke taman wisata Kali Urang, saya dan adik jstru lebih suka menjelajahi seluk beluk Kali Kuning.
Berenang hanya dengan mengenakan kaos dalam dan celana dalam--benar-benar seperti anak liar, menyusuri tepian sungai hingga menemukan sumber mata air, memasukkan bekal minum dan buah ke dalam air yang dingin, hingga menyeberangi bukit tembusan ke taman wisata Kali Urang.
Saat itu, hanya kami bertiga yang ada di lokasi itu. Sesekali ada seorang penjual yang lewat. Ah ya, ada juga bapak-bapak penjaga parkir yang posnya nun jauh di sana. Beberapa tahun kemudian, ketika kami kembali menyambangi Kali Kuning untuk yang ke sekian kalinya, baru lah kami menjumpai keluarga lain: seorang ibu dan dua anak lelakinya. Merekalah yang membuat saya enggan melepas pakaian untuk mendi di sungai.
Mungkin eksklusifitas itulah yang membuat saya agak kurang sreg berada di tempat wisata yang terlalu ramai. Saya merasa kurang bebas untuk menjamah titik-titik indah di lokasi tersebut. Ini sangat berbeda dengan beberapa teman saya yang justru suka jika mengunjungi tempat wisata yang ramai.
Sebenarnya, sebelum dikenalkan pada Kali Kuning, saya terlebih dahulu telah mengenal Kyai Langgeng atau Gembira Loka. Tapi tetap saja, pesona kealamian Kali Kuning kala itu benar-benar merasuki jiwa hingga saya tak pernah melupakannya.
Saya bersyukur karena Bapak telah mengajarkan untuk berteman dan mencintai alam sejak kecil. Tak perlu takut, cemas, atau bingung saat berada dalam dekapannya. Ia tak menyakiti, justry melindungi :)
Ah ya, beberapa minggu yang lalu saya dan keluarga sempat mengunjungi Ketep, Umbul Ponggok, Pantai Glagah, juga Pantai Klayar dan Goa Gong di Pacitan. Tapi tetap saja, selama di perjalanan, kami justru mengenang Kali Kuning. Apa kabar ia sekarang?
Sabtu, 25 Oktober 2014
Pain
Jumat, 17 Oktober 2014
Otak-otak
Edisi memanfaatkan ikan segar yang nemu di Pasar Kliwon, saya dan adik iseng-iseng buat otak-otak bandeng.
Harusnya sih dibungkus pakai kulit kembang tahu trus dikukus dan digoreng. Karena nggak nemu kulit kembang tahu dan demi pengiritan minyak, eh, mengurangi kolesterol, akhirnya kami memanggang alih-alih mengukus dan kemudian menggoreng.
Ternyata kalau dibakar aromanya lebih sedap looh. Sayangnya teksturnya jadi nggak selembut yang dikukus. Kalau saya dan adik sih lebih suka yang dikukus :3
Homemade Meatball Part 2
Creme Caramel
Minggu, 03 Agustus 2014
Homemade Meatball
Penyebabnya cuma gara-gara ada tegangan listrik yang tak seimbang antara saya dan dia. Sepele saja. Tak perlu dicemaskan karena durasi konslet itu tak selama biasanya. *siapa juga yang mau nyemasin*
Eniwei, setelah kemarin merengek-rengek pada ibu agar dikasih sisa daging sapi untuk bahan percobaan.membuat bakso, hari ini ibu mengultimatum saya agar segera mengolah daging sapi itu. Jika tidak, ibu akan memasaknya menjadi entah apa. Ini jelas-jelas membuat saya yang hobi mager--semenjak berhenti magang di Detik--jadi terpojok.
Tak disangka-sangka, perpaduan antara kegundahan dan keadaan terdesak dapat menghasilkan energi yang menakjubkan. Dengan energi itu, saya yang pecicilan, ceroboh, dan sering gudubrakan ini berhasil membuat bakso.
Yeah, bakso! Makanan favorit sayaaaa..... ^^
Ternyata membuat bakso nggak terlalu susah lho. Tinggal giling daging sampai halus. Campur bumbu. Ratakan. Dinginkan di freezer. Dibentuk. Masukin air panas. Rebus. Masukin air es.
Sayangnya karena baru pertama kali mencoba, bakso cetakan tangan saya belum serapiBakso Ceger belakang kampus STAN yang dulu jadi favorit anak-anak, apalagi bakso mas Adam di PJMI yang dalemnya ada potongan dagingnya -__- Yeah, bakso perdana saya bentuknya nggak bulat sempurna. Beberapa bakso juga mlethek dan permukaannya nggak halus. Biar nggak malu-maluin, saya ambil yang paling rapi buat difoto :p
Soal rasa? Kata adik-adik, enak. *Sayangnya mereka hanya kenal enak dan enak banget*
Yang jelas, karena homemade, bisa dijamin kebersihan dan bahan-bahannya: bebas penyedap buatan, MSG, boraks, pengenyal, pemutih, dsb. Jadi lebih syehat, terutama buat ibu hamil dan anak-anak :3
Baiklah, selain bercita-cita jadi penjual pempek kito galo, saya juga mungkin berencana mengembangkan sayap di bidang perbaksoan. Semoga suatu saat bisa bikin yang kayak punya Mas Adam :D






