Kakakku itu sangat pendiam. Aku lupa sejak kapan ia
menjadi sependiam itu, aku tidak ingat. Dari semua teman-temanku, aku paling
tidak bisa menebak apa yang ada di pikirannya.
***********
Hari itu hari kepulanganku dari ranah rantauku. Sepeti
biasa aku lebih memilih naik kereta ekonomi bersama teman-teman se SMA ku dulu.
Selain lebih murah, suasana kebersamaan yang kami dapat lebih kental dibanding
menaiki angkutan umum yang lain. Selama 10 jam di dalam kereta kami mencoba
memejamkan mata diantara bisingnya suasana kereta ekonomi.
“Pocari... Pocari... Aqua dingin, Aqua dingin, Mijon...
Mijon... larutan-larutan...”
“Lontong tahu serebuan... Lontong tahunya, Mas..”
“Pop mie, Pop mie... Kopi panas, susu...”
Baru sejenak aku memejamkan mata, terdengar lagi suara-suara itu. Belum lagi
penjual-penjual iseng yang mengatakan bahwa waktu sahur sudah dekat.
“Nasi ramesnya.. Nasi Ramesnya.. Persiapan sahur persiapan sahur!!!”
Padahal