Sabtu, 21 Juni 2014

Lelaki Pencinta Buku


Katanya seseorang cenderung suka pada lawan jenis dengan kegemaran yang sama. 

Sama-sama suka membaca buku, misalnya, lalu saling suka gara-gara tak sengaja bersentuhan tangan ketika hendak mengambil buku yang sama. Sama-sama suka lihat bola dan kemudian jatuh cinta di malam-malam saat mereka nonton bola bersama. Sama-sama suka bulu tangkis dan rasa cinta tumbuh seiring pukulan-pukulan yang melambung meninggi. Atau sama-sama suka bermain drama lantas jatuh cinta ketika memerankan drama yang sama.

Tapi aku justru belum pernah satu kali pun naksir cowok yang suka membaca buku atau menulis.

Padahal, buku dan menulis adalah duniaku. Buku adalah satu-satunya dunia yang selalu sudi menerimaku kembali, meski ia pernah kutinggalkan hingga berapa lama, meski saat kembali padanya,  jiwaku tak selalu murni.

Penulis dengan sesama penulis, musikus dengan sesama musikus, fotografer dengan sesama fotografer. Bukankan itu terlihat manis? Berduet menciptakan karya, menghabiskan malam-malam bersama di studio yang sama, atau menorehkan nama besar di dunia yang sama.

Mungkin hukum fisika benar-benar berlaku padaku: dua kutub yang sama akan saling tolak-menolak dan dua kutub berbeda akan saling tarik-menarik.

Ini bukan berarti aku lantas benci orang yang suka membaca loh. Enggak kok, aku tetep suka. Suka banget malah. Bersama pergi ke toko buku, menghabiskan berjam-jam untuk membaca, saling mengabarkan buku-buku bagus yang baru saja dibaca, atau heboh mendiskusikan sebuah buku. Yah, hanya saja kedekatan yang terjalin antara aku dengan cowok pencinta buku—atau menulis—biasanya bukan dalam ranah romasa. (Meski kadang beberapa orang menyalahartikan kedekatan itu)

Kenapa? Aku juga tidak tahu. Mungkin karena hukum fisika.

Lelaki pertama, sebut saja begitu, bukan seorang yang menggemari buku. Pun menulis. Sejak kecil dunianya ada pada gambar dan lukisan yang ia torehkan pada selembar kertas atau kanvas. Entah berapa banyak piala yang telah ia raih sejak usianya masih dini. Pun ketika di SMA, ia termasuk 3 ilustrator kondang di sekolah dan kerap mendapat pujian dari guru seni rupa. *Ini bukan promosi*

Sisi manis darinya—ini baru kusadari beberapa waktu lalu—adalah memberikan sebuah buku sekaliber dan sekeren The Alchemist-nya Paulo Coelho padaku. Tanpa kusadari, ia memperkenalkanku padaku genre yang belum pernah kumasuki sebelumnya. (Yeah, sebelumnya aku hanya banyak membaca fiksi fantasi -_-)

Lalu, si Lelaki. Sebut saja begitu.

Ia sama sekali tak suka buku. Pernah suatu ketika aku mengajaknya ke toko buku. Ia terlihat sangat gelisah dan seolah ingin beranjak pergi. Baru kali itu aku melihat reaksi yang seperti itu.

“Kamu kok kayak gelisah begitu?” tanyaku padanya.
“Aku merasa terasing di sini. Merasa terintimidasi.”
Sontak aku tertawa, dan cengengesan mem-bully-nya. Tapi kuputuskan untuk mengenalkan sedikit keajaiban duniaku padanya. “Sebentar ya. Aku mau mendengarkan suara-suara buku yang memanggilku.”
“Memanggil? Bagaimana bisa? Bagaimana caranya?”
Aku menarik lengannya menuju sehamparan buku. “Sini. Begini caranya...” *trik ini rahasia*
Dan ia hanya tertawa.

Hal yang sama juga terjadi padaku ketika aku diajaknya menonton siaran bola kesukaannya. Dari HP. Oh itu mungkin saja karena aku melihatnya dari HP. Mungkin jika melihat dari layar televisi yang lebar, akan lain ceritanya.

Ada beberapa cowok lain yang sempat menarik perhatianku. Tapi mereka juga bukan pembaca buku atau penulis. Si itu adalah orang yang gemar main game, si itu adalah orang yang gemar mengutak-atik komputer, si itu adalah orang yang gemar bermain futsal, dan si itu adalah orang yang gemar bermusik.

Tapi mamas di gambar ilustrasi kok cakep ya >.< *OOT*

Kamis, 19 Juni 2014

Buku-buku yang Memanggil

Pernah enggak, merasa dipanggil oleh sebuah buku? Kamu nggak kenal buku itu, belum pernah mendengar orang lain ngomongin, dan kalau dilihat dari covernya, beuuuh, cover itu nggak-kamu-banget. Namun, entah mengapa, kamu tiba-tiba merasa terpanggil untuk membelinya. Aneh bukan?

Aku pernah.

Ada beberapa buku asing yang memanggilku. Sebelumnya aku nggak pernah baca ulasan tentang buku itu, tak pernah mendengar teman menceritakannya, juga tak direkomendasikan oleh siapa pun. Ketika berjalan-jalan di toko buku atau pameran, well, tiba-tiba saja buku itu memanggil.

"Hei, sobat. Aku tak setenar Harry Potter, Lord of The Ring, atau Supernova. Tapi kau tak akan menyesal membeliku." Mungkin begitu yang akan ia ucapkan kalau bisa berbicara.

Menjawab rasa heranku, seorang teman bilang, kita biasanya akan terpanggil oleh buku yang berfrekuensi sama dengan jiwa kita.

Kadang aku bersyukur karena lebih sering menggunakan panggilan-panggilan jiwa buku ketimbang rutin membaca sinopsis. Bisa dibayangkan, kalau rajin kepo di Goodreads atau blog resensi buku, pasti aku bakal kalap beli buku karena mengira semua buku itu bagus. Bagaimana pun juga, opini si resensor akan memengaruhi, kan?

Buku pertama yang memanggilku dengan kuatnya adalah Bartimaeus Trilogy: Amulet of Samarkand. Buku ini covernya sangat iuuh, bergambar makhluk seram yang sama sekali nggak imut, bukan-gue-banget lah kalau istilah anak muda zaman sekarang. Dan setelah dibaca, aku benar-benar tenggelam ke dalamnya dan cinta mati sama karakternya. Aku pun membeli buku kedua, ketiga, dan bahkan sekuelnya. Well, hanya sedikit teman yang tahu tentang Bartimaeus ini, di antaranya adalah Santi, yang tertarik stelah kupinjami, dan Pandu yang tiba-tiba nyaut ketika aku update status di FB. Dan Khabib.

Imut-imut, eh?

Yang kedua adalah Existere karya Sinta Yudisia. Sebelumnya, seperti apa itu Existere atau siapa Sinta Yudisia, aku belum pernah tahu (oke, mungin aku terlalu kuper). Tapi, wah, setelah membacanya, kepuasan tiada tara menyelimuti perasaan dan pikiran ini! Benar-benar membuka mata. Genre buku ini juga sangat berbeda dengan buku-buku yang sering kubeli loh.



Yang ketiga ialah Ring of Fire, sebuah catatan perjalanan dua orang asing di pedalaman-pedalaman Indonesia. Aku juga belum pernah dengar tentang buku itu--meski ternyata perjalanan dua orang asing itu telah difilmkan di BBC. Saat melihatnya di pameran, tiba-tiba buku itu memanggil agar aku menghampiri. Dan aku pun membelinya. Lagi-lagi, genre buku ini juga tidak sama dengan dua buku di atas.



Yang terakhir, Manusia Langit. Entah apa yang memanggil--cerita atau harga--aku pun membelinya. Dan, wao, banyak hal yang kupelajari dari buku itu. Budaya. Antropologi. Meski, yah, endingnya agak dipaksakan.



Jangan takut makan enak. Buku ini buku kesehatan. Hehe. Covernya juga biasa saja: hijau polos dengan tulisan JANGAN TAKUT MAKAN ENAK besar-besar. Tapi sukaaa banget bacanya.



Pernah mendengar keempat buku tadi? Yah, memang tidak terlalu terkenal sih... (Atau mungkin aku yang cupu karena setengah-setengah cari informasi, hehe)

Selain empat buku tadi, ada juga beberapa buku lain yang memanggil saya tapi tak terdengar terlalu kuat. Misalnya Skulduggery Pleasant, Kereta tidur (kumcer), 100 Resep Sederhana Orang-orang Bahagia, Balance Your Life Balance Your Hormon, Catatan Harian Seorang Mafia Pajak, Topi Selebar Langit (Terry Prachet), Amba, Wizard of Earthsea, City of Ember (sebelum difilmkan), Mitos dan Fakta Kesehatan, Beyond the Deepwoods, Knife, The Alchemist and The Angel,.... Ups, kalau disebutkan semua, bisa-bisa saya menyebutkan hampir semua koleksi novel di rak buku saya dong :p

Juga ada beberapa buku yang memanggil tapi saya urung membelinya hingga kini hanya sesal yang ada. Misalnya Cantik Itu Luka (Eka Kurniawan), ini yang paling nyesek banget karena sekarang susah dicari.

Pernah nggak, merasa terpanggil oleh sebuah buku dan kemudian menyesal?
Pernah!

Sebenarnya lebih tepatnya saya merasa terpanggil oleh covernya. Waktu itu saya sedang berjalan-jalan di toko buku. Tiba-tiba pandangan saya diusik oleh peri di sebuah sampul buku. Cantik dan elegan! Itu selera saya banget, peri yang cantik dan misterius! Tapi saya tidak serta merta membelinya. Pada kesempatan lain, dengan tidak terlalu yakin, saya pun membelinya. Ah, ternyata saya kecewa. Frekuensi kami, saya dan buku itu, ternyata berbeda :(

Nah, mungkin pepatah bijak yang mengatakan "don't judge a book by its cover" itu memang perlu diingat setiap saat.

Kamis, 12 Juni 2014

Mitos

Yang namanya mitos, adalah sesuatu yang tidak ada tetapi diada-adakan. 

Misalnya, meludahi sumur bisa membuat bibir jadi sumbing. Itu katanya. Padahal, coba saja. Tidak akan bibirmu jadi sumbing hanya karena meludahi sumur. Ya, kan? 

Misalnya lagi, menduduki bantal bisa membuat pantat jadi bisul. Kalau dilihat dari ilmu kesehatan, engggak ada tuh mikroorganisme di bantal yang memicu bisulan. Nah lho. 

Yang tidak ada tapi diada-adakan. Itulah mitos.

Pernah dengar netralitas media? Ya, yang katanya media seharusnya tidak memihak dan bersikap netral. Itu juga cuma mitos. Menurut saya aja sih. Nggak ada yang namanya netralitas media.

Media, kalau itu memang benar media yang hidup, pasti ada kecenderungan ke mana arah pemberitaan. Bisa jadi kepentingan umum, kepentingan masyarakat, kepentingan mahasiswa, pemerintah, atau ilmu pengetahuan sekali pun.

Misalnya waktu kuliah. Ada dua pers di kampus, satu milik BEM, satu independen. Pers milik BEM ini tentu akan membuat berita-berita yang positif tentang BEM. Sedang yang satunya, dia berlaku sebagai watch dog alias pengamat. Kalau pemenrintahan BEM jelek, ya bilang jelek. Kalau bagus, ya bilang bagus. ralKalau jelek tapi bagus, ya bilang jelek tapi bagus. Beda sama yang satunya.

Nah, apakah pers kedua tadi netral? Enggak juga. Apakah dia independen? Enggak juga.

Konon pers kedua ini hidup karena dapat kucuran dana dari mahasiswa--meski banyak dari mahasiswa itu yang enggak sadar kalau mereka ikut mengucurkan dana. Nah, otomatis, ketika terjadi sebuah peristiwa, pers itu akan memihak pada kepentingan mahasiswa. Yang perlu diketahui mahasiswa, yang ingin diketahui mahasiswa, atau yang berguna bagi mahasiswa.

Tapi, karena ranahnya mahasiswa, maka bagi para mahasiswa di kampus saya, pers kedua terlihat lebih netral. Ya karena mahasiswa itu mayoritas dan pemegang kekuasaan itu cuma segelintir orang saja. Pers yang memihak pada mereka akan terlihat seolah netral. Lain halnya dengan pers yang memihak pada kekuasaan tertentu. Karena yang dipilihnya adalah minoritas, maka terlihat seolah tidak netral.

Masalah perspektif saja, sebenarnya.

Eh, tapi, ini bukan tentang kepenulisan lho... Misalnya agar suatu berita terlihat netral, harus dibuat dari dua sisi berbeda. Bukan! Ini tentang kecondongan pemberitaan media itu. 

Sudah ah, meracaunya. Ini semakin enggak jelas saja.

Sabtu, 07 Juni 2014

Jalan Memutar


Dulu, ketika membaca Perahu Kertas-nya Dee, aku belum paham benar kegalauan yang dirasakan Kugy. Kini, aku mulai paham. Sedikit.

Setiap penulis punya jenis tulisan yang disukainya. Mungkin fiksi, fiksi fantasi, science fiction, nonfiksi, atau sastra. Kugy suka dongeng dan ia ingin jadi penulis dongeng anak. Sayangnya, dongeng anak kurang laku di dunia Perahu Kertas. Itulah mengapa Kugy galau bukan main. Dia sempat beralih menulis cerita-cerita cinta di majalah, sampai kritikan dari Keenan menyadarkannya. Bagus, tapi seperti nggak hidup.

Dan, sepertinya itu juga terjadi di dunia nyata. Aku jadi curiga kalau itu sebenarnya bentuk kritikan Dee terhadap dunia percetakan di Indonesia.

“Penerbit itu jualan, kan?” Begitu kata CEO salah satu penerbit mayor di Indonesia.

Makannya penerbit pasti hanya menerima naskah-naskah yang kira-kira diminati pasar saja. Untuk fiksi,  yang diminati adalah novel-nove bertemakan romance. Yang ringan, tentu saja. Ini khusus untuk penulis pemula lho. Soalnya, kalau penulis besar, sepelik apa pun judul yang ia sodorkan, akan ada orang-orang yang terlanjur jatuh cinta pada karyanya. Serumit apa pun judulnya, akan ada orang-orang yang terlalu sayang untuk melewatkan.

Aku menyayangkan minimnya minat pembaca Indonesia terhadap buku-buku sastra.

Sejak SMP, aku terlanjur mencekoki diriku sendiri dengan fiksi-fiksi terjemahan. Waktu itu, tak kukenal siapa itu NH Dini atau Marah Rusli. Yang kukenal malah JK Rowling, RL Stine, Tolkien, Eva Ibbotson, Road Dahl, Sir Arthur Conan Doyle, Terry Prachet, Ursula K Leguin, dan sebangsanya. (Maka beruntunglah mereka yang sudah mengenal NH Dini sejak SMP)

Waktu itu, aku menganggap, kebanyakan buku remaja terlalu ringan untuk kubaca, kurang menantang, dan kurang imajinatif. Yeah, aku tahu ini salah.

Makannya sejak kuliah, tepatnya ketika memasuki semester empat, aku mulai membuka kesempatan pada karya-karya Indonesia. Aku mulai membaca buku-buku Indonesia. Supernova adalah novel pertama yang berhasil mencuri hatiku.

Bagiku, novel fiksi yang keren adalah yang bisa memancingku untuk berpikir, bertanya-tanya, atau menebak apa maksud si pengarang. Dan itu kutemui pada novel-novel sastra. Ada sesuatu yang misterius, disembunyikan, dan aku suka ketika berhasil menemukannya. 

Bagiku, sastra memberi kebebasan bagi penulis untuk mengutarakan isi kepala tanpa harus terlalu lugas. Bagiku, sastra adalah teman yang mau mendengarkan segala keluh kesahku, tanpa orang lain harus tahu apa arti sebenarnya.

Maka, ketika sastra adalah sesuatu yang kurang diminati di pasaran, dan kamu sangat ingin terlibat di dalamnya, pilihlah jalan berputar. Besarkan namamu sembari menggodok kemampuanmu. Setelah namamu besar, keluarkan apa yang telah kau godok selama bertahun-tahun.

Voila!

Selamat berjuang, temanku, Ranger Cyan! Juga Ranger Kuning!

Senin, 28 April 2014

Tak Kunjung Besar



Saya mempelajari sesuatu dengan cepat, lebih cepat dari pemula pada umumnya. Bukan sombong. Jika sama-sama memulai dari nol, maka kemampuan saya akan meluncur dengan cepat layaknya roket. Oke, sebenarnya tidak secepat roket juga sih. *Kita ralat dengan sepeda*

Mungkin, itulah mengapa saya pernah terpilih menjadi utusan provinsi dalam olimpiade sains nasional bidang fisika saat SMP padahal saya lulusan SDIT yang lebih banyak memahami pelajaran agama dan menghafal ayat Al Quran. Saya sama sekali tak yakin dapat menguasai pelajaran umum jika masuk SMP negeri. Tapi faktanya, saya berhasil masuk ke SMP unggulan di kabupaten dengan peringkat 13 pada ujian masuk dan selalu meraih peringkat lima paralel.

Mungkin, itulah mengapa saya beberapa kali menjuarai berbagai lomba menulis blog saat SMA, padahal saya belum lama menekuni dunia blogging, dan kompetisi menulis.

Mungkin, itulah mengapa saya kerap dipilih sebagai perwakilan sekolah dalam berbagai perkemahan saat SMP dan SMA, padahal saat SD, satu-satunya perkemahan yang pernah saya ikuti adalah jambore anak muslim yang isinya lomba-lomba islami.

Mungkin, itulah mengapa saya bisa meluncur naik roler blade dengan cukup lancar padahal itu pertama kalinya saya mencoba. Mungkin itu juga mengapa saya bisa langsung meluncur dengan riangnya di arena ice skating, melebihi anak lain yang sudah beberapa kali mencoba, dan tentunya melebihi anak yang lain yang masih berpegangan pada pagar arena. Mungkin jika melakukannya sedari dulu, saya bisa jadi pemain roller blade atau ice skating kelas kakap.

Mungkin, itu juga mengapa saya dipilih untuk mewakili kelas dalam perlombaan bulu tangkis, lari estafet, dan meraih posisi dua sejurusan. Padahal, kali terakhir bermain bulu tangkis adalah saat saya masih SD, saat ayah saya belummalas untuk berolahraga bersama anak-anak. Eh, ini mungkin karena partner saya di pertandingan hebat-hebat.

Mungkin, itu juga mengapa saya sudah pandai mengoperasikan mesin jahit manual sejak masih duduk di bangku awal sekolah dasar. Saya membuat kantung tas kecil persis seperti milik teman saya, hanya karena saya jatuh hati melihat tas itu. Saya juga menjahit sendiri baju-baju boneka saya. Membuat semua karya itu, saya tidak sesial adik saya yang menjahit jarinya sendiri ketika sibuk berakting menjadi penjahit.

Mungkin, itu juga mengapa saya selalu menduduki tiga besar di kelas semasa SMA. Padahal ketika masuh, NEM saya saat itu berada di jajaran bawah dan saya masuk kelas X4, atau kelas dengan nem ke 3 dari bawah (x6).

Mungkin, itulah mengapa saya bisa mendapat IP di atas 3,75, menempati peringkat belasan pada saat kelulusan di STAN. Padahal, saya murni anak IPA yang membenci pelajaran hafalan.

Tidak, saya tidak berniat menyombongkan diri. Baca dulu, bagian tragisnya belum saya ceritakan. Saya cuma mau bilang kalau saya cepat bosan. Itu saja.

Ya, semasa SMP saya memang selalu masuk lima besar paralel. Tetapi pada saat ujian akhir nasional, entah berapa peringkat saya. Mungkin di atas lima puluh. NEM saya hanya 28,00.

Ya, saya pernah mengikuti OSN Fisika tingkat nasional semasa SMP. Tetapi prestasi itu tak pernah kembali terulang semasa SMA. Paling pol hanya tingkat kabupaten dan itu terus menurun, drastis. Saya bosan. Saya justru beralih ke lomba-lomba menulis blog.

Ya, saya dulu aktivis pramuka. Saya sering berkembah. Tetapi semenjak kuliah, saya tak pernah mengikutinya, sekali pun. Saya justru beralih ke klub jurnalistik.

Ya, saya memiliki secuil prestasi dalam bidang olahraga. Tetapi prestasi itu tak juga berkembang. Sama seperti kemampuan saya yang tak kunjung berkembang terhalang kebosanan.

Saya memang bisa membuat jahitan sederhana sejak duduk di bangku SD. Tetapi kebosanan membuat kemampuan itu bertahan pada tempatnya. Sampai sekarang saya belum bisa membuat kebaya atau gaun pesta.

Ya, saya sellau menduduki tiga besar di kelas semasa SMA. Tetapi itu saja. Nilai UNAS saya, entah berapa peringkatnya, mungkin di atas seratusan. Tidak membanggakan seperti nilai rapor saya.

Ya, saya mendapat IPK 3,75 di STAN. Tetapi itu tak seberapa. Pada semester awal, IP saya 3,9 dan saya menempati posisi lima besar di jurusan saya. bayangkan sejauh apa penurunan yang saya alami?

Saya bukan mau sombong, saya cuma ingin cerita kalau saya ini mudah bosan. Itulah mengapa saya tak kunjung jadi orang hebat. Itulah mengapa say amasih jadi orang biasa-biasa saja, sampai sekarang.

Minggu, 30 Maret 2014

Pemilu: Di Balik Tradisi Konvoi Kampanye

(Foto: Solo Blitz)
(Bukan berarti saya ada apa-apa dengan partai merah ini lho ya)
Mendekati pemilihan umum alias pemilu, konvoi motor alias kampanya menjadi hal yang tidak jarang ditemui kala bepergian. Beramai-ramai mereka mengendarai motor, mengenakan atribut mencolok ala partai masing-masing, dan tak jarang, memainkan mesin motor (diblong) hingga mengeluarkan suara keras nan mengganggu. Istilah jawanya 'mblayer'

Sungguh mengganggu perjalanan, atau setidaknya itu pendapat saya. Pasalnya mereka sering sekali menimbulkan kemacetan. Sudah bising, kadang anarkis, bikin macet pula. Siapa yang bakal simpati?

Saya rasa mereka pun, yang ikut-ikutan konvoi itu, sebenarnya paham kalau rasa simpati masyarakat tak akan timbul dari konvoi bin 'mblayer-mblayer' tak jelas itu. Yah, setidaknya mereka yang mengenyam pendidikan seharusnya sadar.

Siapa sih yang suka dihambat rombongan konvoi berisik ketika sedang terburu-buru bertemu klien? Siapa sih yang mau perjalanan berobat ke rumah sakit dihambat rombongan orang-orang yang 'mblayer-mblayer' nggak jelas? Atau, siapa sih, yang ingin jalanan yang biasanya sudah cukup ramai harus semakin dipenuhi rombongan orang berpakaian mencolok yang berkendara lambat-lambat nan berisik?

Yang suka, silakan angkat tangan. Saya sih, tidak akan.

Lah, lantas mengapa mereka masih juga berkonvoi tak jelas? Bukankah seharusnya mereka tahu bahwa masyarakat tidak akan lantas mencoblos partai mereka karena 'tersentuh' melihat konvoi beramai-ramai yang super berisik itu?

Saya bukan pakar psikologi atau pakar politik yang ahli masalah kejiwaan. Tapi menurut saya, mungkin orang-orang itu hanya butuh ajang saja untuk menyalurkan hasrat mereka.

'Hasrat'? Ya, hasrat. Hasrat untuk berkumpul-kumpul, beramai-ramai, membuat kegaduhan.

Selain masa kampanye, tak ada lagi even yang bisa mewadahi hasrat ini. Kapan lagi coba, bisa berkumpul-kumpul membuat kebisingan di jalan tanpa ditegur atau ditindak polisi? Setelah pengumuman kelulusan ujian SMA atau SMP? Pasti akan segera ditenangkan oleh pihak berwajib.

Ya, kapan lagi kalau bukan di masa-masa mendekati Pemilu ini. Hanya orang tidak waras yang sudi mblayer-mblayer di jalan, sendirian, saat tak ada even apa pun. Malu, dan pasti akan mendapat protes keras dari pengguna jalan yang lain. Tapi  tentu beda  kan, kalau beramai-ramai?

Semoga tradisi konvoi 'mblayer-mlayer ini tidak terus berlanjut.

Mengagumi-Dikagumi


Sebut saja namanya Mona. Ia adalah salah seorang kawan semasa olimpiade dulu, kawan seperjuangan dan kawan berbagi ruang di Puri Artha dulu. Meski lebih muda, kawan yang satu ini amat sangat berprestasi. Entah berapa piala dan medali yang telah ia gondol, entah berapa kejuaraan yang ia menangkan.

Ia langganan mengikuti olimpiade sains tingkat nasional, bukan hanya sekadar ikut meramaikan seperti saya, ia langganan menyabet medali. Ia juga pernah mendapat hadiah sebuah perjalanan ke negara tetangga sana karena memenangkan kompetisi karya tulis ilmiah. Cantik, tinggi, percaya diri, dan yang terpenting ia pintar, atau bahkan cerdas.

Entah cerdas atau pintar, saya tak tahu. Karena sampai saat ini, hanya sedikit orang saya labeli dengan predikat cerdas. Sedikit saja, namun banyak di antaranya adalah anak ‘ndugal’ yang kerap diomeli para guru kesiswaan.

Si kawan saya ini akan melangsungkan pernikahan, yang katanya dihelat Mei depan. Saya ikut gembira mendengarnya *dan bertanya-tanya kapan giliran saya :p*

Terkadang saya berpikir.

Si kawan saya ini seolah begitu sempurna, begitu berprestasi, dan dilihat dari segi fisik, ia bisa dibilang rupawan. Mungkin putri Indonesia sekali pun tak akan sanggup menandingi si kawan ini ketika mereka dihadapkan pada pertanyaan yang sama. (Tapi jelas si kawan saya ini tidak akan ikut ajang semacam puteri atau miss Indonesia karena ia memegang teguh aturan agamanya)

Sedangkan di sisi lain, banyak orang yang tidak dianugerahi kesempurnaan macam dia. Terlahir dengan penampilan biasa saja, dengan isi kepala pas-pasan, dan tanpa bakat (atau sebenarnya hanya belum menemukan saja).

Mengapa tuhan menciptakan perbedaan semacam itu? Bsnyak orang bilang, “Tuhan terkadang tidak adil” atau “takdir memang kejam”. Mungkinkah saya akan membenarkan pernyataan itu?

Saya rasa tidak. Tuhan Maha Adil. Ia menciptakan segala perbedaan, agar tercipta rasa mengagumi-dikagumi. Saya mengagumi ia, ia dikagumi saya. Dia mungkin juga mengagumi seseorang, entah siapa. Dan mungkin saja, ada seseorang, entah siapa, yang mengagumi saya.

Bukan tak mungkin, lho, seseorang yang serba hebat atau serba wah, justru mengagumi kehidupan orang lain yang serba biasa.

Si A mengagumi si B karena ia mendulang kesuksesan dalam usaha, hidup bergelimang harta, memiliki pasangan cantik nan rupawan, dan anak-anak yang selalu membanggakan. Tapi entah mengapa, si B justru mengagumi A yang selalu bahagia meski hidup sederhana, selalu “legowo”, selalu mensyukuri apa yang diberikan tuhan.

Tuhan benar-benar maha adil. Syukuri saja apa yang ia beri :)