Kamis, 10 Mei 2012

#19 Sudah Lahir!

Civitas #19


Konon katanya, ada seorang mahasiswa STAN yang entah bagaimana dia ter-DO. Si mahasiswa ini mungkin karena saking frustasinya, akhirnya memutuskan untuk bunuh diri. Namun tampkanya keputusan si mahasiswa naas ini untuk mengakhiri hidupnya dalam usia belia bukanlah keputusan yang tepat. Meninggal di usia yang masih belia, ia memang tidak meninggalkan anak dan istri untuk dinafkahi *jelas lah, kan di STAN nggak boleh nikah*. Namun ternyata ada sosok lain yang ditinggalkannya, yakni sebuah Honda keluaran 2003miliknya.

Entah bagaimana, konon si motor milik mahasiswa itu tidak mau dipindahkan. Motor itu terus berada di parkir kampus, bertahun-tahun hingga usang dan berdebu. Tidak ada seorang pun yang berani memindahkannya karena konon, jika dipindahkan ia akan kembali ke posisi semula. Tidak ada yang tahu mengapa motor tua itu tetap berada di situ. Apakah arwah si mahasiswa yang belum tenang itu merasuki motornya? Ataukah si motor merasa sedih karena ditinggalkan tuannya?

Rabu, 09 Mei 2012

Perjalanan si Buku

"Aku tidak akan membuang atau menjual mereka, buku-buku lamaku. Biarlah mereka menjadi saksi atas perjalanan pendewasaan alam pikirku" -muam-

Kemarin siang, setelah cukup digalaukan karena nggak ada niat sama sekali untuk belajar SIM-K, iseng-iseng aku membuka file daftar buku yang kumiliki. Juga daripada galau karena teringat ujian Bahasa Inggris yang nggak kalah madesu dengan ujian cost, akhirnya aku malah

Selasa, 08 Mei 2012

Ketika WK terbit duluan


Kalut adalah ketika produk keluaran perusahaan sainganmu keluar lebih dulu.

Dan sekarang aku marasakan kekalutan yang sama. WK alias Warta Kampus sudah turun cetak dab terbit. Padahal kali ini kami (mabeng) sudah berusaha memperceat proses produksi tabloid. Aku juga sering kali mengingatkan para reporter agar segera menyelesaikan berita mereka. Dan menurut catantanku, timeline pengumpulan artikel di tabloid ke 19 ini lebih cepat dari biasanya. hhh.. tapi ya begini, pada akhirnya deadliner tetaplah deadliner. Civitas yang biasanya dibagikan pada hari pertama ujian, sampai hari ini belum juga menampakkan wujudnya.


Aku membolak balik halaman WK....

Senin, 07 Mei 2012

Harakiri



Hari ini warga ceger khususnya perumahan RS IV dikejutkan dengan penemuan mayat seorang mahasiswi. Mayat tersebut ditemukan sekitar pukul lima sore di sebuah kamar di salah satu kos putri perumahan tersebut. Kondisi mayat yang mengenaskan membuat mahasiswi lain yang tinggal di kos itu berteriak-teriak hiteris selama lebih dari lima jam. Walaupun dengan isi perut yang berceceran, wajah korban dapat diidentifikasi dengan jelas.

Korban yang berinisial MH adalah seorang mahasiwi semester 4 spesialisasi kebendaharaan negara. Polisi belum mengetahui motif di balik terbunuhnya MH. Namun hingga saat ini, penyebab kematian korban diduga karena melakukan harakiri. Pihak terkait menduga korban melakukan harakiri karena gagal dalam ujian cost accounting. Hal ini turut diamini oleh beberapa saksi mata.

“Tadi setelah ujian dia galau dan nagis guling-guling,” tutur SUS, salah satu teman sekos korban. Teman-teman sekelasnya juga mengatakan hal yang sama, bahwa korban tidak kuat menaggung rasa bersalah akibat tidak bisa mengerjakan soal ujian. Dugaan semakin kuat dengan ditemukannya bukti SMS yang dikirim korban kepada teman-temannya.

*****
Aku mau harakiri.
Selamat tinggal teman-teman.
Aku bahagia pernah mengenal kalian :’)

Sent to many at 11.54.00
07-05-2012

Jumat, 04 Mei 2012

Mengejar Progesteron


“kamu besok nggak pulang juga?” tanya si gadis modis. Ceria seperti biasa.

“Iya,” jawab gadis yang diajaknya. lugas. Kata-katanya sederhana, seperti penampilanya yang juga sederhana.

“Yaudah ikut kita aja,”

“Ngapain?”  

“Les make up dan kecantikan” jawab si gadis modis. Masih sambil tersenyum

“Eegh...,” si gadis sederhana yang berpenampilan cuek itu memanglingkan muka. “Aku nggak mau kalo les kecantikan” jawabnya sembari memasang muka masam yang dibuat-buat.

Si gadis modis menampakkan ekspresi sedih

“Gitu yaa...” gadis lain di samping gadis pertama, yang juga tak kalah modis ikut bereaksi. Memasang wajah masam yang juga dibuat-buat

“Aku maunya mbolang,” tutur si gadis cuek itu pada akhirnya. Penuh semangat, senyum tersugging di bibirnya. Ia tetap memasang wajah ceria berlebih, tanpa sadar bahwa sedari tadi, dosen telah hadir di ruangan. Dan mungkin saja ia mendengar semua percakapan itu.

****

Mungkin kalian akan bertanya siapa si gadis modis, dan siapa pula gadis modis yang satunya. Tapi kalau si gadis cuek yang memilih mbolang daripada beajar kecantikan, seluruh dunia pasti sudah tau. Itu

Kamis, 03 Mei 2012

Perpisahan si Pria-Bocah Tengil


lagi-lagi aku tiba di penghujung sebuah pertemuan, perpisahan.

Dan lagi-lagi aku harus berpisah dengan salah seorang dari keluarga yang amat kusayangi. Entah mengapa harus ia, mengapa harus dari mereka. Satu per satu secara perlahan namun pasti, anggota kami di sini mulai berkurang. Dan lagi-lagi, aku tidak bisa mencegahnya.
Namun setidaknya perpisahan kami kali ini dihiasi dengan senyum. Si pria-bocah tengil itu memutuskan untuk keluar dari tempat ini dengan suka rela. Ia memang ingin pergi, dengan keputusannya sendiri. Bukan karena indek prestasi yang pas-pasan atau melanggar segepok peraturan. Melepas seorang yang kami sayangi, berat memang. Tapi itu jalan yang ia pilih.

Kuakui. Ia pemberani. Ia adalah seorang

Selasa, 01 Mei 2012

Tragedi Semalam


Memerintahkan orang skeptis-argumentatif untuk diam itu seperti megusir semut dari gula. Hanya bekerja beberapa saat, sebelum akhirnya ia kembali.

Ituah yang terjadi padaku. Aku ini tidak bisa diam ketika ada sesuatu yang mengusik pikiranku. Agaknya sesuatu dalam kepalaku ini saling berargumen di luar kendali. Akhirnya  mulutku, atau tanganku tak kuasa untuk menahannya, dan menyampaikannya dengan gamblang. Aku tak bisa begitu saja pura-pura cuek pada suatu permasalahan dan membiarkannya. Memang yang kulakukan bukanlah hal yang memberi kontribusi nyata, tapi aku melakukan upaya yang bisa kulakukan, yakni  dengan memberikan argumen.

Isu kenaikan BBM misalnya, walaupun berakting seolah tidak peduli, di kelas secara diam-diam aku menganalisa dampak negatif dan positifnya. Mengumpamakan seolah diriku ada di posisi orang yang pro kenaikan dan juga memposisikan diriku seolah aku adalah orang yang kontra akan kenaikan BBM. Dan ketika tanpa disangka salah satu dosen memerintahkan kami untuk berargumen seolah-olah kami tidak pro kenaikan BBM, itu mudah saja bagiku. (Walaupun mayoritas temen-temen yang lain setuju dengan kenaikan karena, mungkin, memang telah terdoktrin berada di pihak pemerintah)

Tentang akreditasi instansi pendidikan yang diwajibkan sebelum 16 Mei 2012 misalnya. Sesaat setelah dosenku mengatakannya, aku memikirkannya. Walaupun saat itu yang kukatakan adalah “nggak usah dipikirin pusing-pusing. Ini kan bukan urusan kita.”. Namun tidak bisa dipungkiri, aku memikirkannya. Bukan memikirkan bagaimana kelanjutan studiku atau nasibku nanti setelah lulus, tapi memikirkan bagaimana status kampusku. Hanya sebatas rasa ingin tahu. Kalaupun saat itu bisa, aku pasti akan langsung bertanya pada dosenku “bagaimana dengan status kampus kita pak?”. Dan untungnya aku tidak perlu menanyakannya karena beliau juga tidak tahu. Beliau menyarakan untuk membuka situs dikti, dan itulah yang kulakukan. Tapi nihil.

Mungkin kebanyakan pembaca akan percaya begitu saja ketika di pintu ATM terdapat tulisan “rusak” atau “uang habis”. Tapi tidak denganku. Sering, sering sekali aku tetap bersikukuh masuk ke dalam ATM dan membuktikannya sendiri. Dan tak jarang aku menemukan bahwa tulisan itu menipu, walaupun terkadang benar juga. Mingu lalu contohnya, aku mengabaikan tulisan “rusak” pada sebuah pintu ATM, dan ternyata setelah mencoba aku bisa mengambil uang seperti biasanya.

Sebenarnya inti cerita ini adalah mengenai permasalahan makrab kelasku. Makrab ini